Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 07 JULI 2025 • 08:26 WIB

Bakso Akrom - Legendnya Bakso Malang Dari Gang Sempit.

Bakso Akrom - Legendnya Bakso Malang Dari Gang Sempit.Akses jalan masuk ke bakso sehat haji Akrom, Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang - Di balik padat‑ramainya Jalan Kauman, tepatnya di gang sempit di samping Toko Mebel Mitra, berdiri sebuah warung mungil berukuran tak lebih dari 7 × 5 meter. Nama­nya Bakso Sehat Haji Akrom. Sejak 1976, warung ini konsisten menyuguhkan bakso berkuah rempah yang kini menjadi salah satu “hidden gem” kuliner legendaris Malang. 

Pak Haji Akrom dan istrinya merintis usaha ini dengan teknik geblak menumbuk daging sapi secara manual sehingga dulu pelanggan menyebutnya Bakso Geblak. Tiga generasi kemudian, papan sederhana bertuliskan “Bakso Sehat Haji Akrom” masih tergantung di mulut gang Kauman IV A No. 45, tak jauh dari Alun‑alun Kota Malang. 

Julukan “sehat” bukan sekadar gimik: adonan pentol dibuat dari 100 persen daging sapi tanpa campuran ayam, kuahnya sama sekali tidak memakai MSG. Cita rasa gurih diperoleh dari kaldu sapi yang di-roast bersama bawang, gula, garam dan merica, lalu diperkaya rempah khas—kapulaga, cengkeh, jintan, pala, laos, serai hingga daun jeruk. Aroma hangat ini muncul karena warung berada di lingkungan komunitas keturunan Arab, sehingga bumbu disesuaikan dengan selera rempah Timur Tengah. 

Bakso Akrom - Legendnya Bakso Malang Dari Gang Sempit.Seporsi bakso haji akrom (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Semangkuk bakso campur lengkap (bakso halus, bakso urat, tahu, mi soun, taburan daun seledri dan bawang goreng) dibanderol Rp 14 000. Pentol tambahan cukup Rp 3 000 per butir, sementara es dawet tempo dulu yang jadi pasangan setia hanya Rp 5 000. Tak heran, selain warga lokal, pemburu kuliner dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan hingga wisatawan luar pulau rela “nyasar” ke gang Kauman demi menyeruput kuah rempahnya. 

Di tengah maraknya bakso kekinian dengan topping modern, Bakso Akrom memilih bertahan pada resep turun‑temurun menjadi bukti bahwa kualitas bahan dan kejujuran rasa tetap punya pasar setia. Kehadirannya bukan hanya mempertahankan identitas kuliner Malang, tetapi juga menggerakkan ekonomi mikro: menyerap daging sapi dari penjual lokal, memberi lapangan kerja keluarga, serta menghidupkan sektor parkir dan pedagang kecil di sekitar gang. 

Warung ini buka setiap hari pukul 10.00 -16.30 WIB (lebih singkat saat Ramadan). Kapasitas yang terbatas membuat antrean kadang mengular hingga mulut gang. Infrastruktur sederhana penerangan gang, akses parkir masih membutuhkan sentuhan pemerintah kota agar pengalaman pengunjung kian nyaman. Dukungan semacam itulah yang akan menjaga keberlanjutan ikon UMKM‑kuliner ini dan mempromosikannya sebagai destinasi wisata gastronomi andalan Malang.

Bakso Akrom bukan sekadar sajian daging bulat dalam kuah panas; ia adalah cerita kegigihan keluarga menjaga warisan rasa selama hampir setengah abad. Satu sendok kuah rempahnya seakan mengingatkan kita bahwa kehangatan kota bisa hadir dalam mangkuk sederhana asal dirawat dengan sepenuh hati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bakso Akrom - Legendnya Bakso Malang Dari Gang Sempit.

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!