Kirab Budaya di Malang (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)
Malang - Memasuki pekan terakhir bulan Muharam, suasana di sejumlah wilayah Kota Malang semakin semarak dengan digelarnya kirab bersih desa. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat budaya, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani sepanjang tahun.
Kirab bersih desa menjadi salah satu tradisi yang masih bertahan di tengah pesatnya perkembangan kota. Warga dari berbagai usia terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari doa bersama, arak-arakan hasil bumi, pertunjukan seni tradisional, hingga berbagai hiburan rakyat. Jalan-jalan kampung yang biasanya ramai oleh aktivitas sehari-hari berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi aneka kostum, gunungan hasil bumi, serta iringan musik tradisional.
Tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mengandung makna yang kuat. Bersih desa dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki, kesehatan, dan keselamatan. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat nilai gotong royong yang selama ini menjadi identitas masyarakat.
Beberapa kawasan di Kota Malang memang memiliki tradisi bersih desa yang masih rutin dilaksanakan setiap tahun. Salah satunya di Kelurahan Polowijen yang menggelar kirab budaya sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa 2026. Tradisi tersebut diisi dengan doa bersama, kirab budaya, karnaval, hingga pertunjukan seni yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah Kota Malang menilai kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi warga melalui kehadiran pelaku UMKM.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi warga yang memadati sepanjang rute kirab. Anak-anak, remaja, hingga orang tua turut mengenakan pakaian adat maupun busana khas daerah. Tidak sedikit pula wisatawan lokal yang sengaja datang untuk menyaksikan kemeriahan tradisi yang hanya digelar pada waktu-waktu tertentu tersebut.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kirab bersih desa juga memberikan dampak ekonomi yang positif. Pedagang makanan, perajin, hingga pelaku UMKM memanfaatkan ramainya pengunjung untuk menawarkan berbagai produk lokal. Kondisi ini menjadikan tradisi budaya tidak hanya bernilai historis, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Di tengah perubahan zaman, kirab bersih desa membuktikan bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati masyarakat. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan leluhur terus diwariskan kepada generasi muda melalui keterlibatan mereka dalam setiap rangkaian kegiatan.
Memasuki penghujung bulan Muharam, kirab bersih desa menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang bersama masyarakat. Selama tradisi itu tetap dijaga, semangat kebersamaan dan kearifan lokal akan terus menjadi bagian penting dalam kehidupan warga Kota Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung