Rabu, 11 MARET 2026 • 03:45 WIB

Dosen DKV BINUS Malang Dampingi UMKM Olah Limbah Talas Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Author

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Dari Dosen DKV BINUS Malang (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

Malang - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara atau BINUS kampus Malang kembali melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM. Kegiatan ini mengangkat potensi limbah produksi keripik talas yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Pendampingan dilakukan kepada UMKM Airafood dari Kabupaten Malang. Selama ini Airafood memproduksi keripik talas, namun masih menyisakan limbah produksi yang belum dikelola dengan baik. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian tim Pengabdian kepada Masyarakat yang dipimpin oleh dosen DKV BINUS Malang, Asri Radhitanti, S.Sn., M.Ds.

Asri melihat limbah produksi talas bukan sekadar sisa bahan yang harus dibuang. Limbah tersebut masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Melalui program pendampingan ini, pelaku UMKM didorong untuk mengolah sisa produksi menjadi inovasi camilan baru sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program BINUS Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat 2025 dengan skema BINUS Peduli Lingkungan Teknologi Tepat Guna. Program ini bertujuan membantu pelaku UMKM mengatasi permasalahan produksi melalui pendekatan inovasi dan penerapan teknologi yang mudah diterapkan.

Pendampingan dimulai dengan diskusi bersama pelaku usaha untuk memetakan masalah produksi. Tim kemudian melakukan riset untuk mencari alternatif produk olahan talas selain keripik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian limbah produksi sebenarnya masih layak konsumsi.

Sebagian besar limbah tersebut berasal dari umbi talas yang berukuran kecil atau bentuknya tidak sesuai dengan standar produksi keripik. Walau tidak memenuhi standar visual produk utama, umbi tersebut tetap memiliki kandungan gizi yang baik.

Menurut Asri Radhitanti, talas merupakan sumber karbohidrat alternatif yang kaya nutrisi, vitamin, dan mineral. Potensi ini dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan menjadi produk pangan baru.

“Daripada hanya menjadi limbah, talas bisa diolah menjadi camilan sehat dalam bentuk lain selain keripik,” kata Asri.

Kegitan Pendampingan Dari Dosen DKV BINUS Malang (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

Pengelola UMKM Airafood, Juli Iswandi, menyambut baik program pendampingan tersebut. Ia mengaku selama ini memang mencari alternatif produk baru dari sisa produksi talas.

“Kami mencoba mengolah limbah talas menjadi produk baru berupa crunch,” ujarnya.

Melalui proses pengembangan produk, tim pendamping akhirnya menghasilkan inovasi camilan baru berupa taro crunch. Produk ini akan dipasarkan menggunakan merek Malang Melintang dengan target pasar anak muda.

Pendampingan tidak hanya berhenti pada pengembangan produk. Tim DKV BINUS Malang juga membantu merancang identitas visual dan kemasan produk. Desain kemasan disiapkan agar produk memiliki daya tarik lebih kuat di pasar.

Selain itu tim juga membuat perangkat promosi seperti poster dan x banner yang dapat digunakan dalam kegiatan pemasaran produk.

Asri berharap pendampingan ini dapat membantu Airafood mengembangkan usaha secara lebih berkelanjutan. Inovasi produk dan strategi komunikasi visual diharapkan mampu meningkatkan nilai jual produk UMKM.

Program ini sekaligus menegaskan komitmen BINUS dalam mendukung pengembangan UMKM. Pendampingan dilakukan agar pelaku usaha mampu melihat peluang inovasi dari sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Melalui pendekatan tersebut, limbah produksi tidak lagi dipandang sebagai sampah. Limbah justru dapat menjadi bahan baku baru yang membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU