Skatepark Alun Alun Kota Malang (Foto Istimewa)
Malang - Malam itu, suara gesekan papan seluncur di Skatepark Alun-alun Merdeka Kota Malang tidak hanya diwarnai atraksi para skateboarder. Sejumlah anak muda terlihat membawa peralatan, material tambal, dan perlengkapan kerja. Mereka berkumpul bukan untuk berlatih trik baru, melainkan memperbaiki fasilitas yang selama ini mereka gunakan.
Kondisi skatepark yang berada di jantung Kota Malang itu diketahui mengalami kerusakan di sejumlah titik. Retakan dan lubang pada lintasan dinilai semakin mengganggu aktivitas pengguna. Tidak sedikit skateboarder yang mengaku khawatir karena kerusakan tersebut berpotensi menyebabkan kecelakaan saat digunakan untuk bermain.
Merasa kondisi fasilitas sudah tidak layak, para pengguna akhirnya mengambil inisiatif. Mereka melakukan patungan untuk membeli kebutuhan perbaikan, lalu bergotong royong menambal bagian-bagian yang rusak pada Rabu malam, 13 Mei 2026.
Aksi swadaya tersebut menarik perhatian publik setelah dokumentasinya beredar luas di media sosial. Banyak warganet mengapresiasi kepedulian komunitas skateboard terhadap fasilitas publik. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai perawatan sarana yang menjadi aset pemerintah daerah.
Bagi komunitas skateboard, skatepark bukan sekadar tempat bermain. Fasilitas tersebut menjadi ruang berkumpul, berlatih, hingga membangun jejaring pertemanan lintas usia. Kerusakan yang terus dibiarkan tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga dapat menghambat aktivitas komunitas yang selama ini tumbuh di ruang publik Kota Malang.
Sorotan publik semakin menguat karena skatepark tersebut merupakan bagian dari kawasan Alun-alun Merdeka yang sebelumnya telah direvitalisasi. Program revitalisasi yang mendapat dukungan pendanaan dari Bank Jatim itu diketahui menghabiskan anggaran sekitar Rp5 miliar.
Menanggapi viralnya aksi perbaikan mandiri tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengakui bahwa pekerjaan yang dilakukan saat revitalisasi sebelumnya memang tidak menyentuh perbaikan besar pada skatepark.
Menurut Raymond, pekerjaan yang dilakukan saat itu lebih berfokus pada perbaikan ringan seperti pengecatan, pembenahan alas tertentu, serta pengecatan bagian besi. Karena itu, sejumlah kerusakan yang kini muncul memang belum mendapatkan penanganan secara signifikan.
Fenomena ini menjadi gambaran menarik tentang bagaimana masyarakat memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap ruang publik. Ketika fasilitas yang mereka gunakan mengalami kerusakan, komunitas tidak memilih menunggu, melainkan bergerak bersama mencari solusi.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan fasilitas publik tidak berhenti pada proses peresmian. Perawatan dan evaluasi berkala menjadi faktor penting agar fasilitas tetap aman dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Bagi para skateboarder Malang, aksi menambal skatepark mungkin hanya langkah sederhana. Namun di mata publik, tindakan tersebut menjadi simbol kepedulian warga terhadap ruang bersama. Sebuah pesan bahwa fasilitas publik yang baik tidak hanya membutuhkan pengguna yang peduli, tetapi juga dukungan dan perhatian berkelanjutan dari pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung