Presiden Prabowo Bersama Staf Menteri (Foto Istimewa)
News - Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana besar pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan melalui pembangunan 30 hingga 50 pabrik bioetanol di berbagai wilayah Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan saat menghadiri Panen Raya di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong penerapan bahan bakar E10, yakni bensin yang dicampur dengan 10 persen bioetanol. Program ini ditargetkan mulai diterapkan secara bertahap pada tahun 2027 sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan pemanfaatan hasil pertanian dalam negeri.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk memproduksi bioetanol. Namun hingga saat ini, kapasitas industri nasional masih sangat terbatas karena baru terdapat satu pabrik bioetanol yang beroperasi.
Menurutnya, dengan pembangunan puluhan pabrik baru, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan campuran E10, tetapi juga memiliki peluang meningkatkan kadar campuran menjadi E20 pada masa mendatang. Hal tersebut dinilai akan memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi nasional sekaligus membuka pasar baru bagi sektor pertanian.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah menyiapkan lahan seluas sekitar 240 ribu hektare yang akan dimanfaatkan sebagai kawasan penghasil bahan baku bioetanol, terutama singkong dan tebu. Lahan tersebut disiapkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan tersebar di 18 provinsi di Indonesia.
Pemerintah juga menargetkan perluasan kawasan budidaya hingga mencapai satu juta hektare dalam beberapa tahun ke depan. Perluasan itu diharapkan mampu menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan sehingga operasional pabrik bioetanol dapat berjalan optimal.
Selain memperkuat ketahanan energi, pengembangan industri bioetanol diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Permintaan terhadap komoditas singkong dan tebu diperkirakan akan meningkat sehingga membuka peluang pendapatan baru bagi petani sekaligus menciptakan lapangan kerja di sektor industri pengolahan.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar dinilai mampu menekan emisi karbon dari sektor transportasi, sekaligus mengurangi impor bahan bakar minyak.
Dengan pembangunan puluhan pabrik bioetanol dan perluasan kawasan bahan baku, pemerintah berharap Indonesia dapat mempercepat transformasi menuju kemandirian energi berbasis sumber daya domestik serta memperkuat kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung