Mahasiswa UB Tolak Kampus Kelola Program MBG, Pertanyakan Dasar Akademik dan Transparansi Kajian
Malang – Puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Universitas Brawijaya (UB), menolak rencana kampus untuk mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi tersebut menjadi bentuk kritik terhadap langkah kampus yang dinilai belum memberikan penjelasan terbuka terkait dasar akademik dan urgensi keterlibatannya dalam program nasional tersebut.
Sejak siang hari, massa aksi menyuarakan berbagai tuntutan melalui orasi dan poster yang dibawa secara bergantian. Mereka mempertanyakan keputusan kampus yang berencana menjadikan SPPG sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa, sementara pelaksanaan program MBG di sejumlah daerah masih menuai sorotan publik.
Mahasiswa menilai terdapat berbagai persoalan yang perlu menjadi perhatian sebelum kampus mengambil peran lebih jauh dalam pengelolaan program tersebut. Salah satu yang menjadi sorotan adalah munculnya kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa wilayah dalam pelaksanaan MBG. Kondisi itu dianggap perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tidak menimbulkan persoalan serupa di kemudian hari.
Koordinator aksi, Muhammad Arifin Ilham, menyampaikan bahwa mahasiswa tidak menolak upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat. Namun, mereka mempertanyakan kesiapan dan dasar pertimbangan akademik yang digunakan kampus dalam mengambil keputusan tersebut.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam program pemerintah seharusnya didasarkan pada kajian yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena itu, tuntutan utama yang disampaikan dalam aksi adalah agar pihak kampus membuka seluruh dokumen, naskah akademik, serta hasil kajian yang menjadi landasan rencana pengelolaan SPPG.
"Kami ingin mengetahui seperti apa kajian yang digunakan kampus hingga memutuskan terlibat langsung dalam pengelolaan SPPG. Dokumen tersebut harus dibuka agar publik dapat menilai dan mengawasi bersama," ujar Arifin dalam orasinya.
Selain meminta keterbukaan dokumen, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah tuntutan lain yang berkaitan dengan akuntabilitas, transparansi, dan keterlibatan sivitas akademika dalam proses pengambilan kebijakan strategis kampus.
Selama aksi berlangsung, massa berupaya meminta pihak rektorat untuk menemui peserta aksi dan memberikan penjelasan secara langsung. Namun hingga demonstrasi berakhir, tidak ada perwakilan kampus yang hadir untuk berdialog dengan mahasiswa.
Ketiadaan respons dari pihak rektorat memicu kekecewaan peserta aksi. Mereka menilai kampus seharusnya membuka ruang komunikasi yang lebih luas, terutama terhadap kebijakan yang berdampak langsung pada nama institusi dan melibatkan sumber daya kampus.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan tertib. Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal rencana pengelolaan SPPG hingga kampus memberikan penjelasan terbuka mengenai dasar akademik, mekanisme pelaksanaan, serta bentuk keterlibatan Universitas Brawijaya dalam program Makan Bergizi Gratis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung