Taman Refugia (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Kab Malang - Taman Refugia di Kepanjen, yang sejak lama dijadikan destinasi wisata edukasi pertanian dan bunga, kini mengalami stagnasi aktivitas. Meski dulu ramai dikunjungi oleh pelajar dan wisatawan untuk belajar bercocok tanam dan menikmati keindahan flora, beberapa tahun terakhir tempat ini praktis “mati suri”.
Berbagai rencana perbaikan dan renovasi sempat digulirkan oleh pengelola maupun pemerintah daerah. Namun realisasinya belum tampak. Renovasi yang direncanakan untuk memperbaharui fasilitas, memperbaiki jalur akses, serta menambah daya tarik edukatif, sekarang dijadwalkan mundur ke tahun 2026.
Keputusan untuk menunda renovasi ini mencerminkan tantangan pengelolaan yang dihadapi dalam mempertahankan daya tarik wisata berbasis edukasi. Tanpa perbaikan infrastruktur, banyak fasilitas mulai rusak: trotoar retak, area tanaman terbengkalai, dan spot foto yang dulunya Instagrammable kini kurang terawat. Akibatnya, pengunjung makin jarang datang, dan fungsi edukatif taman menjadi kurang maksimal.
Komunitas lokal dan warga sekitar berharap bahwa renovasi nanti bisa memastikan Refugia kembali menjadi tempat belajar pertanian yang inspiratif. Idealnya, selain memperbaiki fisik, pengelola juga harus merancang program edukasi yang aktif, seperti workshop pertanian, kelas tanaman hias, serta kerja sama sekolah. Dengan demikian, wisata edukasi itu tidak hanya “taman bunga” semata, melainkan juga ruang produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Jika renovasi terlaksana sesuai rencana pada 2026, Refugia bisa kembali bersinar sebagai ikon wisata edukasi di Kabupaten Malang. Namun keberhasilan proyek tersebut sangat bergantung pada komitmen pemerintah, pendanaan yang cukup, dan partisipasi masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan tempat ini ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online