Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 20 JULI 2026 • 13:55 WIB

Polo Pendem Rebus, Sarapan Murah yang Jadi Penanda Gaya Hidup Sehat Warga Kota Malang

Polo Pendem Rebus, Sarapan Murah yang Jadi Penanda Gaya Hidup Sehat Warga Kota MalangPolo Pendem Simbol Hidup Sehat Masa Kini (Foto Istimewa)

Malang - Pagi hari di Kota Malang selalu memiliki pemandangan yang menarik. Di berbagai sudut jalan, mulai dari kawasan permukiman hingga dekat pasar tradisional, gerobak sederhana penjual polo pendem rebus mulai melayani pembeli sejak matahari terbit. Asap tipis dari kukusan dan aroma singkong rebus menjadi penanda bahwa aktivitas masyarakat telah dimulai.

Di tengah menjamurnya makanan cepat saji dan aneka jajanan modern, keberadaan penjual polo pendem justru tetap bertahan. Bahkan, jumlahnya masih cukup banyak. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa masyarakat Malang masih mempertahankan kebiasaan mengonsumsi makanan tradisional yang sederhana, mengenyangkan, sekaligus lebih sehat.

Polo pendem merupakan sebutan masyarakat Jawa untuk aneka umbi-umbian yang tumbuh di dalam tanah. Di lapak para pedagang, pembeli dapat memilih singkong rebus, ubi jalar rebus, jagung rebus, hingga pisang kukus. Semuanya disajikan tanpa proses penggorengan sehingga tetap mempertahankan cita rasa alami bahan makanan.

Menariknya, harga yang ditawarkan juga sangat ramah di kantong. Satu potong singkong atau ubi rebus umumnya dijual mulai Rp2.000. Dengan uang belasan ribu rupiah, seseorang sudah dapat menikmati sarapan sederhana yang mengenyangkan. Harga tersebut membuat polo pendem menjadi pilihan berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja, hingga para lansia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pola hidup sehat tidak selalu identik dengan makanan mahal. Banyak warga Malang yang secara sadar memilih makanan rebus sebagai pengganti gorengan untuk sarapan atau camilan pagi. Singkong, ubi, dan jagung dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang mampu memberikan energi lebih lama dibanding makanan tinggi gula atau tepung olahan. Sementara pisang kukus menjadi pilihan praktis yang kaya serat dan mineral.

Budaya mengonsumsi polo pendem juga menjadi bagian dari identitas kuliner Malang yang masih terjaga. Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, makanan tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Hal ini sejalan dengan berbagai kajian yang menyebutkan bahwa jajanan tradisional masih menjadi bagian penting dari budaya kuliner Kota Malang dan memiliki potensi untuk terus dilestarikan.

Bagi sebagian warga, membeli polo pendem di pagi hari bahkan sudah menjadi rutinitas. Ada yang menikmatinya bersama secangkir teh hangat sebelum bekerja. Ada pula yang membawanya sebagai bekal ke kantor atau sekolah. Kebiasaan sederhana tersebut secara tidak langsung membantu menjaga keberlangsungan usaha mikro yang telah puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Di saat tren makanan terus berganti mengikuti perkembangan media sosial, gerobak polo pendem tetap ramai didatangi pelanggan. Tidak ada kemasan mewah, tidak ada promosi besar-besaran. Yang ditawarkan hanya makanan tradisional dengan rasa alami, harga terjangkau, dan manfaat yang tetap relevan hingga sekarang.

Barangkali inilah salah satu wajah Kota Malang yang patut dipertahankan. Di balik kesederhanaannya, polo pendem rebus bukan sekadar jajanan tradisional. Kehadirannya menjadi simbol bahwa gaya hidup sehat dapat dimulai dari pilihan makanan yang sederhana, dekat dengan budaya lokal, dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Polo Pendem Rebus, Sarapan Murah yang Jadi Penanda Gaya Hidup Sehat Warga Kota Malang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!