Kesenian Budaya Malang Selatan Bantengan (Antara News)
Life - Malang dikenal sebagai kota wisata alam dan kuliner. Kota ini juga kaya agenda budaya tahunan yang hidup dan terus dijaga masyarakatnya. Festival budaya di Malang tidak sekadar tontonan. Festival ini menjadi ruang bertemu tradisi, sejarah, dan kreativitas warga.
Setiap tahun, masyarakat Malang membuka kalender budaya dengan peringatan 1 Suro di kawasan Gunung Kawi. Ritual ini sarat makna spiritual. Warga menggelar kirab budaya dari desa menuju area makam. Ogoh-ogoh diarak sebagai simbol pembersihan diri. Prosesi ditutup dengan pembakaran simbolik yang menarik perhatian wisatawan.
Di pesisir selatan, Pantai Balekambang menjadi pusat Upacara Jalanidhipuja. Ritual ini dilaksanakan umat Hindu menjelang Nyepi. Persembahan hasil bumi dilarung ke laut sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan. Pemandangan laut, pura, dan busana adat menciptakan pengalaman visual yang kuat.
Budaya Tengger juga hadir melalui Grebeg Tirto Aji. Air suci diambil dari sumber mata air Wendit lalu dibawa ke kawasan Tengger. Air ini dipercaya membawa berkah dan keseimbangan alam. Ritual ini memperlihatkan hubungan manusia, alam, dan kepercayaan yang masih dijaga hingga kini.
Nuansa sejarah terasa di Festival Lawang Kota Tua. Kawasan Lawang disulap menjadi ruang budaya terbuka. Bangunan kolonial menjadi latar pameran foto lama, pertunjukan seni, dan bazar kuliner. Festival ini mengajak Anda melihat Malang dari sudut sejarah yang jarang disentuh.
Kreativitas modern hadir dalam Malang Flower Carnival. Jalan Ijen berubah menjadi panggung parade kostum bertema bunga. Kostum dibuat dari bahan daur ulang dan dirancang dengan konsep visual kuat. Acara ini rutin menarik ribuan penonton dan menjadi ikon pariwisata kota.
Kota Batu juga menyumbang warna lewat Batu Flora Festival. Parade bunga digelar dengan latar pegunungan. Peserta berasal dari pelajar, komunitas, hingga pelaku wisata. Festival ini memperkuat identitas Batu sebagai kota bunga dan kota kreatif.
Wilayah pantai selatan Malang semakin hidup melalui Malang Beach Festival. Kegiatan tersebar di beberapa pantai seperti Sendang Biru dan Wedi Awu. Festival ini memadukan seni, lomba, musik, dan aktivitas wisata bahari. Setiap pantai punya konsep acara yang berbeda.
Ritual adat yang masih dijaga kuat adalah Upacara Karo di Desa Ngadas. Upacara ini berlangsung hampir dua minggu. Warga Tengger berkumpul untuk doa bersama, sajian tumpeng, dan ritual adat. Suasana desa terasa hangat dan penuh kebersamaan.
Festival budaya tahunan di Malang menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti di masa lalu. Tradisi terus hidup dan beradaptasi. Jika Anda ingin merasakan Malang secara utuh, datanglah saat festival digelar. Anda tidak hanya berwisata. Anda ikut menjadi bagian dari cerita budaya Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online