Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 08 FEBRUARI 2026 • 23:58 WIB

Menelusuri Asal Usul Nama Kota Batu dari Jejak Ulama hingga Kota Wisata

Menelusuri Asal Usul Nama Kota Batu dari Jejak Ulama hingga Kota WisataLandmark Kota Batu (Foto Istimewa)

Life - Kota Batu dikenal sebagai salah satu daerah wisata unggulan di Jawa Timur. Udara sejuk, panorama pegunungan, dan tanah yang subur menjadi ciri khas kota ini. Namun, di balik pesonanya, Kota Batu menyimpan sejarah panjang tentang asal-usul namanya yang berakar dari kisah tokoh agama.

Nama Kota Batu diyakini berasal dari sebutan masyarakat terhadap seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro bernama Abu Ghonaim. Ia dikenal dengan panggilan Mbah Wastu. Tokoh ini berasal dari Jawa Tengah dan memilih hijrah ke lereng Gunung Panderman untuk menghindari kejaran serdadu Belanda setelah Perang Jawa pada 1825 hingga 1830.

Di wilayah yang kini menjadi Kota Batu, Mbah Wastu membuka lahan dan membangun permukiman. Ia kemudian dikenal luas oleh masyarakat sekitar sebagai tokoh agama yang mengajarkan nilai-nilai Islam. Kehadirannya membuat wilayah tersebut berkembang dan semakin ramai didatangi penduduk.

Dalam tradisi lisan masyarakat Jawa, penyebutan nama sering dipersingkat. Nama Mbah Wastu lambat laun berubah menjadi Mbah Tu. Sebutan ini kemudian berkembang menjadi Mbatu. Dari pelafalan itulah, nama Batu akhirnya digunakan untuk menyebut wilayah tersebut hingga kini.

Peran Mbah Wastu tidak hanya sebatas tokoh pembuka wilayah. Kawasan tempat tinggalnya juga menjadi pusat penyebaran Islam. Aktivitas keagamaan dan sosial yang ia bangun mendorong pertumbuhan komunitas baru di lereng Gunung Panderman. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai daerah yang hidup dan produktif.

Pada masa kolonial Belanda, Kota Batu mendapat julukan De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa. Julukan ini muncul karena kondisi alamnya yang indah dan berhawa sejuk, mirip dengan lanskap Swiss di Eropa. Catatan ini menunjukkan bahwa Kota Batu sudah lama dikenal sebagai daerah peristirahatan dan tujuan wisata.

Selain dikenal dari sejarah namanya, Kota Batu juga populer sebagai kota apel. Tanahnya yang subur menjadikan sektor pertanian berkembang pesat. Konsep agropolitan melekat kuat dan menjadi identitas ekonomi masyarakat setempat.

Secara administratif, Kota Batu resmi menjadi daerah otonom setelah memisahkan diri dari Kabupaten Malang pada 17 Oktober 2001. Status ini memperkuat perannya sebagai kota wisata dan pertanian.

Meski kisah Mbah Wastu sangat melekat, beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa nama desa di kawasan tersebut sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Namun, nama Batu tetap populer dan diterima luas oleh masyarakat, seiring kuatnya cerita lisan tentang Mbah Wastu yang hidup hingga kini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Online

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menelusuri Asal Usul Nama Kota Batu dari Jejak Ulama hingga Kota Wisata

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!