Perpustaan Kota Malang (Foto Istimewa)
Malang - Perpustakaan Kota Malang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat akan ruang baca. Gedung Perpustakaan Umum ini merupakan sumbangan OPS Rokok Kretek. Pembangunan selesai pada 17 Agustus 1965.
Setahun kemudian, tepat 17 Agustus 1966, gedung tersebut diserahkan dan diresmikan kepada Pemerintah Daerah Kodya Dati II Malang. Kota Malang saat itu memang membutuhkan fasilitas perpustakaan umum. Gedung tersebut kemudian digunakan sebagai Kantor Perpustakaan Malang.
Pada tahap awal, pengisian koleksi dilakukan oleh panitia dan yayasan. Buku-buku dikumpulkan secara swadaya. Upaya ini tidak berjalan optimal. Koleksi terbatas dan pengelolaan belum terstruktur.
Pemerintah Kotamadya Dati II Malang lalu mengambil langkah strategis. Jawatan Pendidikan Masyarakat melalui bagian Perpustakaan Rakyat diminta membantu mengisi dan mengelola gedung tersebut. Tujuannya jelas. Perpustakaan harus berfungsi sebagai pusat literasi warga.
Perkembangan tidak mudah. Banyak buku sudah tua. Penambahan koleksi terkendala biaya. Keterbatasan anggaran membuat pembaruan koleksi berjalan lambat. Namun kebutuhan masyarakat terhadap akses bacaan terus meningkat.
Momentum penting terjadi pada 22 Mei 1972. Peresmian pembukaan Perpustakaan Umum Pusat Kotamadya Dati II Malang dilakukan oleh Walikotamadya Dati II Malang. Acara ini dihadiri Ketua DPRD dan berbagai instansi pemerintahan.
Sejak pembukaan resmi tersebut, pengelolaan mulai ditata lebih sistematis. Pada bulan-bulan awal operasional, urusan administrasi sementara diserahkan kepada Kepala Bagian Hukum Pemda Kotamadya Dati II Malang. Kebijakan ini menghasilkan Surat Keputusan sebagai dasar hukum pengelolaan.
Perjalanan perpustakaan ini menunjukkan komitmen kota terhadap literasi. Dari gedung sumbangan hingga menjadi pusat bacaan umum, prosesnya penuh tantangan. Keterbatasan koleksi dan anggaran tidak menghentikan upaya menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat.
Perpustakaan Kota Malang menjadi bagian dari sejarah pembangunan pendidikan nonformal. Ia berdiri sebagai simbol bahwa literasi tumbuh dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung