Tradisi Tukar UAng Pecahan Baru (Antara News)
Malang - Menjelang Lebaran, tradisi tukar uang pecahan baru kembali ramai. Masyarakat berburu uang baru untuk dibagikan kepada keluarga, terutama anak-anak.
Uang pecahan kecil seperti dua ribu, lima ribu, hingga sepuluh ribu menjadi yang paling dicari. Uang ini biasanya dimasukkan ke dalam amplop sebagai bentuk berbagi saat Hari Raya.
Tradisi ini sudah berlangsung lama. Banyak keluarga menganggapnya sebagai bagian dari momen silaturahmi. Anak-anak menantikan uang baru sebagai simbol kebahagiaan Lebaran.
Bank Indonesia setiap tahun membuka layanan penukaran resmi. Masyarakat bisa menukar uang dengan jumlah tertentu sesuai ketentuan. Layanan ini membantu mengurangi peredaran uang tidak layak.
Namun di lapangan, praktik penukaran tidak resmi juga marak. Jasa penukaran uang biasanya muncul di pinggir jalan. Mereka menawarkan kemudahan, tetapi dengan potongan nilai tukar.
Misalnya, untuk mendapatkan uang baru senilai 100 ribu rupiah, masyarakat harus membayar lebih. Selisih ini menjadi keuntungan penyedia jasa. Fenomena ini terus terjadi karena tingginya permintaan.
Tren penukaran kini mulai bergeser. Sebagian masyarakat memanfaatkan layanan digital untuk reservasi penukaran uang di bank. Proses menjadi lebih teratur dan menghindari antre panjang.
Tradisi tukar uang baru bukan sekadar soal uang. Aktivitas ini mencerminkan budaya berbagi dan kebersamaan. Meski cara berubah, esensinya tetap sama, yaitu mempererat hubungan keluarga di momen Lebaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung