Armada Sumber Group (Foto Istimewa)
Life - Nama Bus Sumber Koncono sempat viral dan melekat kuat di ingatan publik, terutama di Jawa Timur. Bukan karena layanan premium atau armada terbaru, tetapi karena reputasi yang terbangun dari cerita-cerita ekstrem di jalan.
Banyak orang mengenalnya dari cerita sopir ugal-ugalan. Bus ini disebut sering melaju kencang, menyalip tanpa kompromi, bahkan dianggap “raja jalanan” di jalur antar kota. Cerita ini menyebar dari mulut ke mulut, lalu diperkuat oleh video amatir penumpang dan pengguna jalan yang beredar di media sosial.
Fakta pertama yang jarang dibahas, Sumber Koncono dulunya adalah bagian dari perusahaan otobus yang cukup aktif melayani rute Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Bus ini punya segmen penumpang sendiri. Tarifnya relatif terjangkau. Ini yang membuatnya tetap diminati, terutama oleh pekerja dan mahasiswa.
Fakta kedua, reputasi “ugal-ugalan” tidak selalu berdiri sendiri. Banyak sopir bus antar kota bekerja dengan sistem setoran. Artinya, semakin cepat mereka sampai dan kembali, semakin besar peluang mendapatkan penumpang berikutnya. Tekanan ini sering memicu gaya berkendara agresif. Ini bukan pembenaran, tetapi menjelaskan konteks di lapangan.
Fakta ketiga, nama Sumber Koncono perlahan menghilang dan berubah. Perusahaan ini bertransformasi menjadi bagian dari operator lain, salah satunya yang lebih dikenal sekarang adalah Sumber Selamat. Perubahan ini bukan hanya soal nama, tetapi juga upaya memperbaiki citra dan standar operasional.
Lalu dari mana muncul unsur “misteri”?
Banyak cerita horor berkembang dari pengalaman penumpang. Ada yang mengaku melihat sosok tak dikenal di dalam bus. Ada yang merasa perjalanan berlangsung tidak wajar. Cerita seperti ini biasanya muncul dari pengalaman subjektif, kondisi malam hari, kelelahan, atau sugesti karena reputasi yang sudah lebih dulu terbentuk.
Fenomena ini mirip dengan efek framing. Saat sebuah brand sudah punya citra ekstrem, publik cenderung mengaitkan semua pengalaman dengan narasi tersebut. Akibatnya, cerita biasa bisa terasa luar biasa.
Yang menarik, meski reputasinya kontroversial, bus ini tetap punya basis pengguna setia. Mereka menilai bus ini cepat, mudah diakses, dan punya rute yang jelas. Ini menunjukkan bahwa keputusan penumpang sering lebih rasional daripada sekadar mengikuti stigma.
Dari kasus ini, ada pelajaran penting untuk industri transportasi dan juga media.
Pertama, reputasi bisa terbentuk lebih cepat dari fakta. Satu video viral bisa mengubah persepsi publik dalam hitungan jam.
Kedua, transparansi dan perbaikan sistem jauh lebih penting daripada sekadar rebranding. Nama baru tanpa perubahan nyata tidak akan bertahan lama.
Ketiga, audiens sekarang aktif membentuk narasi. Mereka bukan hanya penonton, tetapi juga produsen cerita.
Bus Sumber Koncono akhirnya bukan sekadar kendaraan. Ia berubah menjadi simbol. Simbol tentang bagaimana cerita, pengalaman, dan persepsi publik bisa saling membentuk dan menciptakan “misteri” yang terasa nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung