Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 27 MEI 2026 • 21:34 WIB

JLKT Bromo Hampir Rampung, Wajah Baru Wisata Tengger Siap Sambut Dunia

JLKT Bromo Hampir Rampung, Wajah Baru Wisata Tengger Siap Sambut Duniapembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

Malang - Kawasan Gunung Bromo perlahan memasuki babak baru. Salah satu proyek strategis terbesar di kawasan wisata unggulan Jawa Timur kini menunjukkan progres signifikan menjelang penyelesaian pada Oktober 2026. Jalur Lingkar Kaldera Tengger atau JLKT yang mulai dibangun sejak 13 April 2026 diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam di kawasan Bromo Tengger Semeru.

Pembangunan jalur sepanjang sekitar 13 kilometer dengan lebar 18 meter itu membentang di kawasan Lautan Pasir hingga menghubungkan jalur bawah tebing kaldera menuju Wonokitri, Pasuruan. Proyek ini menjadi salah satu langkah besar dalam penataan kawasan wisata Gunung Bromo yang selama ini menghadapi tantangan lonjakan wisatawan setiap musim liburan.

Di tengah meningkatnya popularitas Bromo sebagai destinasi internasional, JLKT hadir bukan sekadar membangun jalan baru. Pemerintah ingin menciptakan sistem wisata yang lebih tertata, aman, dan tetap menghormati ruang hidup masyarakat adat Tengger.

Nuansa pembangunan di kawasan Bromo juga dibuat berbeda dari proyek infrastruktur pada umumnya. Jalur ini dirancang tetap menyatu dengan karakter alam pegunungan dan budaya lokal. Di sepanjang lintasan, telah dipasang ribuan patok lengkap dengan stiker reflektor dan tali seling pengaman untuk meningkatkan keselamatan pengunjung, terutama saat kabut tebal turun di kawasan kaldera.

Tidak hanya fokus pada akses wisata, proyek dengan anggaran Rp11,16 miliar ini juga memperhatikan aspek konservasi lingkungan. Sebanyak 60 sumur resapan dibangun untuk membantu menjaga keseimbangan air dan mengurangi dampak erosi di kawasan pasir vulkanik Bromo. Langkah ini dinilai penting mengingat tingginya aktivitas kendaraan wisata yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian pegiat lingkungan.

Menariknya lagi, JLKT juga mengakomodasi keberadaan ruang budaya masyarakat Tengger. Sebanyak 17 area sakral turut dipertahankan dan ditata agar tetap terlindungi di tengah perkembangan wisata modern. Hal ini menjadi pesan kuat bahwa pembangunan di Bromo tidak hanya mengejar estetika wisata, tetapi juga menjaga identitas budaya yang telah hidup turun-temurun di lereng gunung.

Untuk mendukung kenyamanan wisatawan, tiga rest area juga disiapkan sebagai titik singgah sekaligus ruang menikmati panorama kaldera tanpa mengganggu area konservasi. Kehadiran fasilitas ini diperkirakan akan mengubah pola kunjungan wisata menjadi lebih teratur dan ramah lingkungan.

Masyarakat sekitar berharap JLKT mampu menjadi wajah baru pengelolaan wisata Bromo yang lebih modern tanpa kehilangan ruh alam dan tradisi Tengger. Dengan progres pembangunan yang terus dikebut, kawasan Bromo diproyeksikan tidak hanya menjadi destinasi favorit wisatawan domestik, tetapi juga contoh pengembangan wisata alam berstandar global yang tetap berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

JLKT Bromo Hampir Rampung, Wajah Baru Wisata Tengger Siap Sambut Dunia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!