Jangan Memaksa Berlari, Mulailah dengan Jalan Kaki: Kisah Taufan Agustian Menjaga Kesehatan di Usia 40
Malang - Bagi sebagian anak muda, olahraga lari kini kerap menjadi tren yang ramai di media sosial. Foto-foto sepatu baru, catatan jarak tempuh, hingga ikut lomba maraton seolah menjadi bagian dari gaya hidup kekinian. Namun, bagi Taufan Agustian, lari bukan sekadar tren yang memancing rasa FOMO (Fear of Missing Out) melainkan sebuah kebutuhan yang lahir dari kesadaran akan kesehatan tubuh dan jiwa.
Pria yang kini berusia 40 tahun itu percaya, menikmati proses adalah kunci. “Jangan langsung memaksakan diri berlari jauh hanya karena ingin terlihat keren di media sosial,” ujarnya sambil tersenyum. Taufan menekankan, langkah kecil justru adalah awal yang paling penting. “Mulailah dari berjalan kaki, rasakan ritmenya, baru perlahan tingkatkan menjadi lari. Tubuh kita punya cara sendiri untuk beradaptasi,” tambahnya.
Kesibukan Taufan sebagai seorang creative director tidak membuatnya lupa menjaga kebugaran. Di sela padatnya jadwal, ia rutin jogging bersama teman-temannya di Stadion Universitas Muhammadiyah Malang. Baginya, momen itu bukan hanya soal olahraga, tetapi juga ruang untuk bercengkerama, berbagi cerita, dan saling memotivasi.
“Lari itu seperti hidup. Ada yang cepat, ada yang lambat, tapi yang terpenting adalah konsistensi dan kesabaran. Kita tidak sedang berlomba dengan orang lain, kita hanya sedang berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri,” tutup Taufan.
Melalui pandangannya, Taufan mengingatkan bahwa lari sejatinya adalah perjalanan personal bukan sekadar angka di stopwatch atau jumlah likes di Instagram. Sebab, pada akhirnya, yang paling berharga adalah kesehatan yang terjaga dan kebahagiaan yang tumbuh di setiap langkah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung