Kab Pasuruan - Di balik sejuknya hawa pegunungan Tengger, Jawa Timur, di daerah Tosari, Kabupaten Pasuruan lahirlah sebuah komunitas yang berakar pada cinta terhadap alam dan budaya: Bala Daun. Komunitas ini diprakarsai oleh Kariadi, seorang tokoh yang sejak tahun 1998 tak henti-hentinya menggerakkan penghijauan. Dedikasinya yang panjang berlanjut dengan mendirikan Bala Daun, wadah yang bukan hanya menanam pohon, tetapi juga menjaga mata air, melestarikan lingkungan, dan membangun kesadaran kolektif untuk hidup selaras dengan alam.
Perjalanan Bala Daun tak bisa dilepaskan dari peran komunitas adat. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga warisan leluhur, kearifan lokal, sekaligus keberagaman Indonesia. Komunitas adat Tengger, misalnya, memegang teguh filosofi hidup yang menyatukan manusia dengan alam: merawat tanah, menjaga air, dan menghormati hutan. Nilai-nilai ini menjadi pondasi penting, bahwa keberlanjutan hanya bisa dicapai jika manusia tidak melupakan akar budayanya.
Di tengah arus modernisasi, Bala Daun hadir untuk menegaskan kembali: tradisi dan inovasi bisa berjalan beriringan. Melibatkan komunitas adat berarti melibatkan mereka yang paling memahami bahasa alam. Mereka yang mengerti kapan tanah harus diistirahatkan, bagaimana air harus dijaga, serta apa makna dari sebatang pohon bagi kehidupan generasi berikutnya.
Komitmen ini diwujudkan dalam aksi nyata. Pada program TJSL @plnpeduli_id, Bala Daun melakukan pendataan pohon menggunakan geotagging di lahan masyarakat penerima manfaat. Sebanyak ± 600 titik pohon cemara berhasil dicatat. Setiap titik adalah simbol harapan: pohon-pohon itu kelak akan menjadi penyangga kehidupan, memperkuat resapan air, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Pendataan ini lebih dari sekadar dokumentasi. Ia adalah bentuk tanggung jawab dan transparansi, agar setiap pohon yang ditanam dapat dirawat, dipantau pertumbuhannya, dan memberi manfaat jangka panjang. Inilah cara sederhana namun efektif untuk memastikan bahwa gerakan konservasi benar-benar berlanjut, bukan hanya seremonial.
Bagi Bala Daun, menanam pohon berarti menanam doa dan harapan. Menjaga mata air berarti menjaga kehidupan. Dan melibatkan komunitas berarti merawat persaudaraan.
Dari Tengger, pesan ini bergaung ke seluruh penjuru negeri: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari satu pohon yang tumbuh, dari satu sumber air yang dijaga, hingga akhirnya menjadi hutan harapan bagi generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung