Malang - Di kota yang terus tumbuh seperti Malang, perlintasan kereta api masih menjadi bagian sehari-hari masyarakat. Bunyi sirine yang khas, lampu merah yang berkedip, hingga palang pintu yang perlahan turun semua itu seharusnya menjadi tanda peringatan bagi pengguna jalan untuk berhenti sejenak. Sayangnya, di daerah padat penduduk, masih banyak yang menyepelekan keberadaan palang pintu ini.
Kita sering melihat pengendara motor yang nekad menerobos, pejalan kaki yang melintas sembarangan, bahkan sopir kendaraan besar yang tidak sabar menunggu. Padahal, palang pintu bukan sekadar penghalang jalan, melainkan penjaga nyawa. Sekali lengah, taruhannya bukan hanya keselamatan pribadi, tapi juga orang lain.
Di balik kesederhanaannya, palang pintu perlintasan adalah simbol disiplin dan kepedulian. Ia mengajarkan kita tentang arti menunggu dengan sabar, menghargai aturan, serta mengutamakan keselamatan daripada ego. Kota Malang yang padat dan sibuk membutuhkan warga yang sadar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Mari kita bayangkan, betapa banyak nyawa terselamatkan hanya karena seseorang mau menunggu 2–3 menit lebih lama. Waktu yang singkat, tetapi berdampak seumur hidup. Jangan biarkan kebiasaan menyepelekan aturan sederhana ini merenggut generasi masa depan. Palang pintu bukan sekadar besi yang turun-naik, ia adalah garis batas antara kelalaian dan keselamatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung