Warung Pecel Godong Jati Mbah Simah: Cita Rasa Tradisi dari Kedungrejo yang Menghangatkan Hati
Madiun - Di sudut Desa Kedungrejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, aroma sambal kacang dan daun jati yang hangus di atas nasi hangat menyambut siapa pun yang datang. Di balik aroma khas itu, ada sosok perempuan sepuh yang jadi legenda di kampungnya Mbah Simah, sang peracik pecel legendaris yang dikenal dengan Warung Nasi Pecel Godong Jati Mbah Simah.
Bukan sekadar tempat makan, warung Mbah Simah adalah potret kehangatan dan kerja keras yang tumbuh dari dapur sederhana. Setiap pagi, Mbah Simah bangun sebelum fajar, menyiapkan bumbu pecel dari kacang tanah sangrai, cabai rawit, kencur, daun jeruk, dan sedikit gula jawa yang digiling dengan tangan. Semua bahan didapat dari pasar tradisional atau hasil kebunnya sendiri.
Yang membuatnya berbeda adalah alas daun jati bukan sekadar gimmick, tapi tradisi turun-temurun yang menjaga aroma dan rasa nasi tetap khas. Saat nasi panas bertemu daun jati, tercium wangi alami yang tak bisa digantikan oleh piring modern. Bumbu kacang kental berpadu dengan sayuran rebus segar seperti kenikir, kecipir, dan daun pepaya muda, menghadirkan cita rasa yang “ndeso” tapi bikin rindu.
Tak heran, warung ini selalu ramai pembeli. Mulai dari warga sekitar, pekerja sawah, hingga perantau yang pulang kampung, semua datang mencari rasa otentik yang jarang ditemukan di kota. “Makan di sini itu seperti pulang ke rumah nenek,” kata seorang pelanggan setia yang selalu menyempatkan mampir setiap kali ke Madiun.
Namun di balik kelezatan itu, tersimpan kisah inspiratif tentang keteguhan hidup. Dari hasil berjualan pecel, Mbah Simah mampu menyekolahkan banyak cucunya hingga ke perguruan tinggi dan memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit. Ia tak pernah merasa lelah, justru bersyukur bisa berbagi rezeki dari warung kecilnya yang terus hidup dari tangan ke tangan pelanggan.
Kini, Warung Nasi Pecel Godong Jati Mbah Simah tak hanya dikenal karena rasanya yang khas, tapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang diusungnya: kesederhanaan, ketulusan, dan kerja keras yang membuahkan hasil. Setiap piring pecel yang disajikan adalah bukti cinta Mbah Simah terhadap tradisi kuliner Jawa Timur yang hangat dan membumi.
Jadi, jika suatu hari Anda melintas di Pilangkenceng, sempatkan singgah di warung Mbah Simah. Duduk di bangku kayu, makan dengan alas daun jati, dan rasakan sendiri bagaimana sepotong pecel bisa menyentuh hati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung