Jumat, 24 OKTOBER 2025 • 07:24 WIB

BINUS Gandeng Brogger Craft, Angkat Branding Sandal Eceng Gondok

Author

Dosen BINUS Malang bersama MKM Binaan. (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang – Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) BINUS Malang menggandeng UMKM Brogger Craft di Desa Wringinanom, Kabupaten Malang, untuk memperkuat branding sandal berbahan eceng gondok. Kolaborasi ini merupakan bagian dari Hibah Internal Pengabdian BINUS University yang berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Langkah ini dilakukan karena produk Brogger Craft yang unik dan ramah lingkungan belum memiliki identitas visual yang kuat. “Kualitas produk mereka bagus, tapi di era sekarang kualitas saja tidak cukup. Branding dan tampilan visual jadi pintu pertama agar dipercaya pasar,” ujar Yongkie Angkawijaya, Dosen DKV BINUS Malang.

Tim kemudian melakukan pendampingan mulai dari perancangan logo, desain kemasan, hingga strategi promosi digital. Tidak hanya membuat desain, BINUS juga mengajarkan pelaku UMKM memahami konsep branding agar bisa merawatnya secara mandiri. “Kami ingin UMKM naik kelas, bukan sekadar punya logo,” tambah Yongkie.

Pemilik Brogger Craft, Rahmad Widodo, menyebut pendampingan ini memberi perubahan besar. “Baru kali ini produk kami punya wajah. Ada logonya, ada ceritanya, tampilannya pun lebih rapi. Kami jadi lebih percaya diri menjualnya,” ujarnya.

Selain memperkuat visual, tim BINUS juga merancang materi promosi dan katalog digital yang menonjolkan karakter lokal Wringinanom serta nilai hijau eceng gondok. Strategi ini menjadikan Brogger Craft bukan hanya produk fesyen kasual, tetapi juga bagian dari gaya hidup ramah lingkungan.

Ketua Pokdarwis Wringinanom, Galuh Prasetyo, menilai kolaborasi kampus dan UMKM ini mampu memperkuat ekosistem ekonomi desa wisata. “UMKM butuh sentuhan branding agar produknya tak sekadar jadi oleh-oleh, tapi punya pasar yang luas,” katanya.

Program ini akan berlanjut ke tahap market testing agar Brogger Craft siap memperluas pasar ke luar Malang. BINUS Malang berharap kolaborasi seperti ini menjadi model penguatan ekonomi kreatif berkelanjutan di desa-desa wisata.

“Ketika universitas, desa, dan UMKM bergerak bersama, kita bukan hanya menghasilkan produk, tapi membangun ekosistem ekonomi yang berdaya,” pungkas Yongkie.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU