Malang - Pegiat budaya, masyarakat, dan Perhutani berkumpul untuk merayakan Hari Menanam Pohon Indonesia. Mereka memilih cara yang sederhana dan langsung. Mereka duduk bersama, berdiskusi, lalu menanam pohon di area hutan yang membutuhkan pemulihan.
Kegiatan dimulai dengan obrolan tentang kondisi lingkungan. Anda bisa melihat bagaimana para pegiat budaya menyampaikan pandangan mereka tentang hubungan manusia dengan alam. Tim Perhutani menjelaskan pentingnya menjaga tutupan lahan. Mereka memberi data kerusakan hutan di beberapa titik dan menjelaskan dampaknya bagi warga sekitar. Diskusi ini memberi pemahaman bagi peserta bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas satu lembaga. Semua orang punya peran.
Setelah sesi diskusi selesai, seluruh peserta bergerak menuju lokasi penanaman. Bibit pohon lokal sudah disiapkan. Jenisnya dipilih yang cocok dengan karakter tanah setempat. Peserta menanam satu per satu, memastikan jarak tanam sesuai rekomendasi agar bisa tumbuh dengan baik. Kegiatan ini memberi pengalaman langsung tentang bagaimana proses pemulihan hutan berjalan.
Acara ini menjadi ruang pertemuan antara budaya, ekologi, dan komunitas. Para pegiat budaya mengajak peserta melihat bahwa merawat alam berarti merawat identitas. Perhutani memberi pengetahuan teknis tentang bagaimana menjaga kualitas hutan. Masyarakat terlibat dengan tenaga dan kebiasaan lokal mereka.
Kegiatan ini menegaskan bahwa aksi menanam pohon bisa memulai perubahan kecil dengan dampak jangka panjang. Tanaman yang hari itu masuk ke tanah akan memberi manfaat bertahun-tahun ke depan. Anda bisa merasakan semangat kolektif bahwa alam yang sehat adalah warisan yang harus dijaga bersama.
Momentum ini mengajak setiap peserta untuk pulang dengan komitmen baru. Menanam pohon bukan hanya seremonial. Ini langkah nyata untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat di sekitar hutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: