Malang - Berbasis Komunitas Di tengah gempuran hiburan digital yang serba instan, kabar baik datang dari sebuah komunitas seni tradisi yang memilih untuk tidak menyerah pada arus zaman.
Kelompok Jaranan Campur Sari Turonggo Satrio Budoyo kini bangkit dengan cara yang tak biasa: mereka mendokumentasikan perjalanan seni mereka lewat sebuah film dokumenter berbasis komunitas. Program ini lahir dari kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Revitalisasi Seni Jaranan Campur Sari Turonggo Satrio Budoyo Melalui Film Dokumenter Berbasis Komunitas sebagai Media Inovasi dan Penguatan Ekonomi Kreatif.” Hasilnya? Sebuah terobosan yang tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga membuka peluang baru bagi ekonomi kreatif desa.
Kegiatan ini berangkat dari kegelisahan banyak pelaku seni bahwa tradisi jaranan mulai kehilangan panggung dan atensi, terutama dari generasi muda. Padahal, di balik setiap hentakan kaki, tabuhan gamelan, hingga gerak penari kuda lumping, tersimpan nilai-nilai luhur yang membentuk identitas masyarakat setempat. Melihat kondisi ini, tim pengabdian turun langsung untuk mendampingi para anggota komunitas agar seni jaranan tidak hanya “bertahan”, tetapi juga “berkembang” mengikuti zaman. Uniknya, film dokumenter yang dihasilkan bukan sekadar dokumentasi biasa.
Prosesnya dirancang dengan pendekatan community-based, di mana para anggota Turonggo Satrio Budoyo dilibatkan dari awal hingga akhir. Mereka ikut menyusun alur cerita, menentukan lokasi pengambilan gambar, sampai belajar teknik dasar produksi visual. Bagi sebagian besar anggota, pengalaman memegang kamera dan berdiskusi kreatif tentang seni yang mereka tekuni adalah hal yang baru dan menyenangkan.
Banyak dari mereka bahkan mengaku semakin bangga dengan kesenian yang selama ini mereka jalani. Film ini tak hanya menampilkan pertunjukan jaranan, tetapi juga kisah-kisah menarik di balik layar tentang ketekunan para penari muda, semangat para sesepuh menjaga tradisi, serta dinamika komunitas dalam merawat warisan budaya. Lewat pendekatan yang lebih humanis, dokumenter ini terasa hangat, dekat, dan apa adanya.
Penonton diajak memahami bukan hanya “apa” itu jaranan, tetapi “mengapa” seni ini penting bagi masyarakat. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, film dokumenter ini juga membawa dampak ekonomi kreatif yang cukup signifikan. Dokumentasi yang baik memberi kelompok kesempatan lebih besar untuk memperluas jejaring, memperkenalkan identitas mereka kepada publik, bahkan menarik minat pelaku pariwisata budaya. Bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat Turonggo Satrio Budoyo dapat merambah ke berbagai panggung festival atau platform digital yang menjanjikan pendapatan tambahan bagi komunitas.
Program ini membuktikan bahwa seni tradisi tidak harus terpinggirkan oleh teknologi justru bisa bersinergi dengannya. Dengan pendampingan yang tepat, komunitas lokal mampu mengemas kearifan budaya menjadi karya visual yang menarik, relevan, dan bernilai ekonomi. Kini, Turonggo Satrio Budoyo memiliki “wajah baru” lewat film dokumenter yang merepresentasikan semangat mereka.
Di era media sosial dan konten kreatif seperti sekarang, langkah ini menjadi inspirasi bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang modern, partisipatif, dan tetap menjaga keasliannya. Seni jaranan pun tidak lagi sekadar pertunjukan tradisional, tetapi menjadi ruang ekspresi yang berdaya, hidup, dan terus berkembang mengikuti zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung