Malang - Taman Cerme menjadi salah satu saksi penting perkembangan tata Kota Malang pada masa kolonial Belanda. Taman ini dulu dikenal dengan nama Tjerme Plein dan dibangun saat pemerintah kolonial menjalankan program perluasan kota yang disebut Bouwplan.
Pembangunan Taman Cerme masuk dalam perluasan Kota Malang tahap kelima pada rentang tahun 1924 hingga 1925. Kawasan ini dirancang sebagai penyegar lingkungan bergenbuurt, kawasan permukiman elit bagi bangsa Eropa pada masa itu.
Pemerintah Kolonial Belanda merancang delapan Bouwplan untuk memperluas Kota Malang. Alun-alun Kota Malang dijadikan titik pusat karena dianggap memiliki posisi penting bagi masyarakat Jawa. Dari pusat inilah pengembangan kota bergerak ke berbagai arah.
Taman Cerme berada di wilayah Bouwplan 7 yang kini dikenal sebagai kawasan Oro-oro Dowo. Bouwplan ini merupakan kelanjutan dari Bouwplan 5 yang saat ini dikenal sebagai Jalan Ijen Boulevard. Kawasan tersebut dipenuhi rumah-rumah besar dengan status hunian elit.
Penamaan jalan di sekitar Taman Cerme juga mencerminkan konsep perencanaan yang rapi. Banyak ruas jalan menggunakan nama gunung seperti Jalan Semeru, Jalan Merapi, dan Jalan Merbabu. Pola ini menunjukkan keseriusan pemerintah kolonial dalam membangun identitas kawasan.
Perluasan Kota Malang tidak lepas dari peran perencana kota Thomas Karsten. Warga negara Amsterdam ini dikenal sebagai ahli tata kota dan mendirikan biro arsitek bersama Lutjens dan Toussaint. Meski belum resmi menjabat sebagai penasihat Kota Malang, Karsten diminta membantu karena keahliannya yang langka pada masa itu.
Karsten membagi perencanaan kota ke dalam beberapa fungsi utama. Ia memisahkan area bangunan, pertanian, jaringan jalan, dan ruang hijau. Konsep Ruang Terbuka Hijau menjadi salah satu elemen penting dalam rancangannya.
Taman Cerme menjadi bagian dari Ruang Terbuka Hijau di wilayah Bouwplan 7. Nama Taman Cerme diambil dari lokasi taman yang berada di Jalan Cerme. Keberadaan taman ini sejak awal dirancang sebagai ruang publik sekaligus penyeimbang kawasan hunian elit.
Di depan Taman Cerme berdiri bangunan bersejarah yang kini dikenal sebagai Hotel Shalimar. Bangunan ini sebelumnya pernah berfungsi sebagai Loji Freemason, lalu beralih menjadi kantor Radio Republik Indonesia Malang. Saat ini, bangunan tersebut berfungsi sebagai hotel dan turut mengelola kawasan Taman Cerme.
Nilai sejarah Taman Cerme diakui secara resmi pada 4 September 2018. Taman ini ditetapkan sebagai bagian dari Cagar Budaya Kota Malang dan masuk dalam Register Nasional Cagar Budaya. Penetapan tersebut didasarkan pada keberadaan bangunan bersejarah The Shalimar Boutique Hotel di kawasan taman.
Register Nasional Cagar Budaya merupakan daftar resmi kekayaan budaya bangsa yang dilindungi negara. Status ini menegaskan bahwa Taman Cerme bukan sekadar ruang hijau kota, tetapi juga bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung