Malang - Menjelang bulan suci Ramadan, sejumlah wilayah di Malang menjaga tradisi keagamaan yang hidup hingga kini. Dua di antaranya adalah Kirab Gunungan Apem dan Malam Pitulasan.
Kirab Gunungan Apem digelar setiap tahun di kawasan Pesarean Ki Ageng Gribig. Warga mengarak gunungan berisi kue apem dari lingkungan sekitar menuju area makam. Prosesi ini dilakukan bersama dengan penuh khidmat.
Apem dipilih karena memiliki makna simbolik. Kue ini dimaknai sebagai permohonan ampun dan ajakan untuk saling memaafkan. Tradisi ini menjadi wujud syukur sekaligus sambutan spiritual menuju Ramadan.
Setelah kirab selesai, gunungan apem dibagikan kepada warga dan peziarah. Masyarakat percaya apem membawa berkah. Momentum ini juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga.
Tradisi lain yang masih dijaga adalah Malam Pitulasan. Tradisi ini memperingati Nuzulul Qur'an. Kegiatan ini dilakukan di beberapa desa di Kabupaten Malang, salah satunya di wilayah Tumpang.
Malam Pitulasan biasanya diisi dengan pengajian, pembacaan ayat suci Al Qur'an, dan doa bersama. Warga berkumpul di masjid atau balai desa. Suasana berlangsung sederhana dan penuh kekhusyukan.
Angka pitulasan merujuk pada tanggal tujuh belas Ramadan. Malam ini diyakini sebagai waktu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Tradisi ini menjadi pengingat pentingnya Al Qur'an dalam kehidupan sehari hari.
Kirab Gunungan Apem dan Malam Pitulasan menunjukkan kuatnya budaya religi di Malang. Tradisi tidak hanya dijaga sebagai warisan, tetapi dijalani sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: