Life - Malang tidak hanya tentang kuliner dan udara sejuk. Kota ini menyimpan banyak cerita yang sering terlewat. Beberapa komunitas walking tour hadir untuk membuka kembali ingatan itu. Mereka mengajak warga melihat Malang dengan cara berbeda. Cukup berjalan kaki.
Komunitas seperti Jelajah Malang, Footish, dan History Fun Walk Malang aktif menggelar tur rutin. Biasanya setiap akhir pekan. Peserta diajak menyusuri rute tematik dengan pendekatan ringan dan interaktif.
Salah satu rute favorit adalah kawasan Kayutangan Heritage. Area ini menyimpan jejak kolonial yang masih terjaga. Bangunan tua, lorong kecil, dan cerita masa lalu jadi daya tarik utama. Dalam satu sesi, peserta tidak hanya berjalan. Mereka juga mendengar cerita tentang fungsi bangunan, perubahan sosial, hingga kisah warga lokal.
Rute lain sering menyasar area Balai Kota Malang dan sekitarnya. Di sini, peserta diajak memahami bagaimana pusat kota berkembang. Mulai dari tata ruang, simbol kekuasaan, hingga perubahan wajah kota dari masa ke masa.
Setiap tur biasanya berdurasi 1 sampai 2 jam. Jarak tempuh sekitar 2 hingga 4 kilometer. Peserta berasal dari berbagai kalangan. Mahasiswa, pekerja, hingga keluarga. Biaya relatif terjangkau. Beberapa bahkan berbasis donasi.
Dampaknya mulai terasa. Warga jadi lebih sadar dengan sejarah kotanya. Pelaku UMKM di sekitar rute juga ikut terdampak. Peserta sering berhenti untuk membeli jajanan atau sekadar beristirahat di warung lokal.
Walking tour bukan sekadar jalan santai. Ini cara sederhana untuk belajar sejarah secara langsung. Tanpa ruang kelas. Tanpa buku tebal. Cukup dengan langkah kaki dan rasa ingin tahu.
Jika Anda ingin mencoba cara baru mengenal Malang, ikut walking tour bisa jadi pilihan. Datang di akhir pekan. Pakai sepatu nyaman. Siapkan energi. Kota ini punya banyak cerita yang siap Anda dengarkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung