Malang - Tradisi pembagian daging kurban mulai mengalami perubahan menarik di berbagai daerah Indonesia. Jika selama bertahun-tahun kantong plastik menjadi pilihan utama, kini banyak panitia kurban beralih menggunakan besek bambu sebagai wadah distribusi daging. Langkah sederhana ini ternyata membawa pesan besar tentang kepedulian lingkungan sekaligus menghidupkan kembali kearifan lokal.
Pemandangan tumpukan besek bambu di area masjid dan tempat penyembelihan hewan kurban kini semakin mudah ditemukan. Anyaman bambu berbentuk kotak itu digunakan untuk membungkus daging sapi maupun kambing sebelum dibagikan kepada masyarakat. Selain terlihat lebih tradisional dan rapi, penggunaan besek dinilai lebih aman bagi lingkungan dibanding plastik sekali pakai yang sulit terurai.
Momentum Iduladha memang identik dengan meningkatnya sampah plastik. Ribuan kantong kresek biasanya dipakai hanya dalam hitungan jam, lalu berakhir di tempat pembuangan sampah. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena limbah plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Karena itu, penggunaan besek bambu mulai dianggap sebagai solusi sederhana yang memiliki dampak nyata.
Tidak sedikit panitia kurban yang mengaku sengaja memilih besek karena ingin menghadirkan semangat ibadah yang lebih selaras dengan kepedulian terhadap alam. Mereka menilai kurban bukan hanya tentang berbagi daging, tetapi juga tentang menjaga keberlangsungan lingkungan untuk generasi berikutnya.
Besek bambu juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Permintaan yang meningkat menjelang Iduladha memberi peluang tambahan penghasilan bagi para pengrajin bambu lokal. Di beberapa daerah pedesaan, produksi besek bahkan menjadi aktivitas musiman yang mampu membantu roda ekonomi warga tetap bergerak.
Selain ramah lingkungan, besek bambu memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga daging tetap segar saat dibagikan. Aroma alami bambu juga memberi kesan tradisional yang khas dan mengingatkan masyarakat pada budaya gotong royong tempo dulu. Banyak warga mengaku lebih senang menerima daging kurban dalam besek karena dapat digunakan kembali untuk kebutuhan rumah tangga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan kecil. Kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik perlahan mulai tumbuh, termasuk dalam kegiatan keagamaan. Tradisi kurban pun tidak lagi hanya dipandang sebagai ritual tahunan, tetapi juga menjadi ruang edukasi sosial tentang pentingnya menjaga bumi.
Di tengah meningkatnya isu perubahan iklim dan pencemaran lingkungan, langkah menggunakan besek bambu menjadi simbol bahwa nilai ibadah dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian ekologis. Dari tangan para panitia kurban hingga masyarakat penerima, anyaman bambu sederhana itu membawa pesan bahwa berbagi tidak harus meninggalkan sampah bagi bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung