Cagar Budaya Kota Malang yang Jarang Diketahui, Jejak Sejarah yang Masih Bertahan di Tengah Kota
Life - Kota Malang selama ini identik dengan udara sejuk, kawasan Ijen, hingga bangunan kolonial di Kayutangan. Namun di balik wajah modernnya, kota ini menyimpan puluhan cagar budaya yang belum banyak dikenal masyarakat. Bahkan, sebagian berada di tengah permukiman warga dan masih luput dari perhatian wisatawan.
Pemerintah Kota Malang telah menetapkan puluhan benda, bangunan, situs, hingga struktur sebagai cagar budaya. Jumlahnya terus bertambah seiring ditemukannya berbagai peninggalan bersejarah yang memiliki nilai penting bagi perkembangan peradaban di wilayah Malang. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah Kota Malang tidak hanya dimulai pada masa kolonial Belanda, tetapi juga telah berlangsung sejak era Kerajaan Kanjuruhan dan Singhasari. (Malang City Portal)
Salah satu cagar budaya yang masih jarang diketahui adalah Prasasti Kanuruhan Bunul. Prasasti ini menjadi bukti keberadaan Kerajaan Kanjuruhan yang diperkirakan telah berdiri pada abad ke-8 Masehi. Keberadaan prasasti tersebut menjadi salah satu penanda bahwa wilayah Kota Malang memiliki sejarah pemerintahan yang jauh lebih tua dibandingkan banyak kota lain di Jawa Timur. (Malang City Portal)
Tidak jauh dari pusat kota, terdapat pula Situs Karuman beserta Yoni Karuman dan Arca Nandi Karuman. Situs ini menyimpan peninggalan bercorak Hindu yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Singhasari. Meski memiliki nilai sejarah tinggi, keberadaannya masih belum banyak dikenal masyarakat karena lokasinya berada di kawasan permukiman dan tidak menjadi tujuan wisata utama. (Malang City Portal)
Di kawasan Mertojoyo juga tersimpan Yoni Mertojoyo yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Benda ini menjadi salah satu peninggalan penting yang menunjukkan perkembangan kebudayaan Hindu di wilayah Malang pada masa lampau. Penetapan sebagai cagar budaya dilakukan untuk memastikan peninggalan tersebut tetap terlindungi dari kerusakan maupun alih fungsi lahan. (Malang City Portal)
Tak hanya peninggalan kerajaan, Kota Malang juga memiliki berbagai bangunan bersejarah dari masa kolonial yang sering dilewati masyarakat tanpa menyadari statusnya sebagai cagar budaya. Salah satunya adalah The Shalimar Boutique Hotel yang dahulu dikenal sebagai Hotel Splendid. Bangunan bergaya art deco ini telah berdiri sejak era Hindia Belanda dan masih mempertahankan karakter arsitektur aslinya hingga sekarang. (Malang City Portal)
Ada pula Menara Sirine di kawasan SMA Negeri 5 Malang. Bangunan ini dulunya digunakan sebagai sistem peringatan pada masa kolonial dan menjadi bagian dari infrastruktur penting ketika menghadapi situasi darurat. Kini menara tersebut menjadi saksi bisu perkembangan Kota Malang dari masa ke masa. (Malang City Portal)
Keberadaan Jaladwara juga menarik perhatian. Struktur ini merupakan saluran air kuno yang mencerminkan sistem pengelolaan air pada masa lampau. Meski bentuknya sederhana, Jaladwara menjadi bukti bahwa masyarakat terdahulu telah memiliki teknologi yang mendukung tata kota dan kebutuhan lingkungan. (Malang City Portal)
Selain itu terdapat Watu Gong, Makara Dinoyo, hingga Gerbang TPU Nasrani Sukun yang telah masuk dalam daftar cagar budaya Kota Malang. Objek-objek tersebut menunjukkan bahwa pelestarian sejarah tidak hanya berfokus pada bangunan besar, tetapi juga benda dan struktur yang memiliki nilai historis maupun budaya bagi masyarakat. (Malang City Portal)
Pemerintah Kota Malang terus melakukan inventarisasi dan penetapan cagar budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan sejarah. Langkah ini diharapkan mampu menjaga identitas kota sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis heritage yang lebih luas di masa mendatang. (Malang City Portal)
Bagi masyarakat, mengenal cagar budaya bukan sekadar mengetahui usia sebuah bangunan atau benda bersejarah. Di balik setiap situs tersimpan kisah perjalanan Kota Malang yang membentuk identitasnya hingga saat ini. Semakin banyak masyarakat mengenalnya, semakin besar pula peluang warisan sejarah tersebut tetap lestari untuk dinikmati generasi berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung