Sesi latihan Arema FC (aremafc.com)
Malang - Arema FC memulai langkah di BRI Super League 2025/2026 dengan hasil menjanjikan. Dari empat laga awal, tim Singo Edan sukses mengumpulkan 8 poin dan bercokol di posisi tiga besar klasemen sementara. Capaian ini terasa spesial karena berbeda dengan musim-musim sebelumnya, di mana Arema kerap terseok-seok di awal kompetisi.
Situasi internal tim pun terbilang lebih kondusif. Asisten pelatih Kuncoro menyebut, harmonisasi di ruang ganti menjadi salah satu kunci.
“Bisa dinilai sendiri seperti apa situasi tim saat ini. Kalau dari tim kepelatihan, musim ini juga solid,” ujarnya.
Padahal, Arema sempat dikhawatirkan akan kesulitan mengelola skuad yang dihuni 11 pemain asing. Namun, pelatih kepala Marcos Santos berhasil meracik rotasi dan atmosfer tim sehingga persaingan internal justru membawa energi positif.
Dari pantauan di lapangan, setidaknya ada tiga faktor kunci yang membuat Singo Edan melaju mulus di awal musim:
1. Rotasi Pemain yang Efektif
Dalam empat laga awal, rotasi pemain berjalan mulus meski beberapa pilar sempat absen karena cedera atau sanksi, seperti Odivan Koerich dan Yann Motta. Menariknya, pergantian ini tidak mengurangi kekuatan tim.
Kedalaman skuad musim ini membuat Arema tetap kompetitif. Hasilnya, Singo Edan belum pernah kalah: dua kali menang dan dua kali imbang. Ditambah jadwal awal yang relatif bersahabat melawan tim promosi seperti PSIM Yogyakarta, Bhayangkara, dan Persijap Jepara kepercayaan diri pemain semakin terjaga.
2. Kepemimpinan Marcos Santos yang Merangkul
Pelatih asal Brasil, Marcos Santos, memberi sentuhan berbeda. Sejak hari pertama latihan, ia sudah mengenal karakter dan kualitas pemain karena melakukan riset mendalam sebelum tiba di Malang.
Adaptasinya makin cepat karena mayoritas pemain asing Arema juga berasal dari Brasil. Tak hanya itu, Marcos tidak menciptakan jarak dengan staf lama. Ia justru memberi peran penting bagi asisten lokal seperti Kuncoro, Siswantoro, serta pelatih kiper Thiago Simoes dan Galih Firmansyah.
Kebersamaan inilah yang membuat ruang ganti lebih solid. “Pelatih kepala punya karakter yang bisa merangkul semua pemain. Ini membuat situasi lebih bagus,” tambah Kuncoro.
3. Beban Lebih Ringan, Mental Lebih Bebas
Musim ini, Arema tampil tanpa beban besar. Hasil buruk di pramusim termasuk gagal menang di Piala Presiden justru membuat ekspektasi publik lebih realistis.
Pemain tak lagi dibayangi tuntutan tinggi. Apalagi laga perdana Super League dilalui dengan kemenangan telak 4-1 atas PSBS Biak di Stadion Kanjuruhan. Hasil itu jadi suntikan kepercayaan diri yang mengangkat mental skuad untuk laga-laga berikutnya.
Start positif ini memang menggembirakan, tapi perjalanan musim masih panjang. Arema FC harus menjaga konsistensi dan kestabilan, terutama ketika bertemu tim-tim papan atas.
Namun satu hal jelas: dengan rotasi yang apik, pelatih yang bisa menyatukan skuad, serta beban yang lebih ringan, Singo Edan sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di musim baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aremafc.com