Karcis fotokopian temuan warga (Foto Istimewa)
Malang - Suasana sore di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, biasanya dipenuhi wisatawan yang berjalan santai menikmati bangunan tua dan kuliner legendaris. Namun, seorang pengunjung justru menemukan hal yang berbeda saat hendak memarkir kendaraannya di kawasan ruko pertokoan Jalan Majapahit.
Ia menerima karcis parkir yang ternyata hanya berupa lembaran fotokopian. Bukan karcis asli sebagaimana mestinya.
“Awalnya saya biasa saja, tapi ketika dilihat lagi ternyata kertasnya fotokopi. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memang resmi atau tidak,” ungkap pengunjung tersebut.
Temuan sederhana ini mungkin terlihat sepele, namun sesungguhnya menyentil kesadaran banyak pihak. Karcis parkir bukan sekadar sobekan kertas, melainkan bukti resmi pengelolaan dan transparansi retribusi. Dengan adanya karcis asli, warga dan pemerintah bisa memastikan kontribusi parkir benar-benar kembali untuk perawatan kota.
Di sisi lain, kasus karcis fotokopian juga menjadi cermin bahwa pengawasan parkir masih perlu ditingkatkan. Tertib administrasi bukan hanya urusan petugas, melainkan juga hak masyarakat sebagai pengguna layanan.
Fenomena ini memberi inspirasi bahwa perubahan besar sering bermula dari perhatian pada hal-hal kecil. Karcis parkir fotokopian di Kayutangan bisa menjadi momentum refleksi: bagaimana Kota Malang yang dikenal sebagai kota wisata bisa semakin profesional dalam pengelolaan fasilitas publik.
Harapannya, temuan seperti ini dapat ditindaklanjuti dengan langkah perbaikan. Bukan hanya demi ketertiban, tetapi juga demi membangun kepercayaan dan kenyamanan pengunjung. Karena pada akhirnya, wajah sebuah kota tercermin dari detail keseharian yang dialami masyarakat maupun wisatawannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung