Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 28 NOVEMBER 2025 • 13:04 WIB

24 Jam Tertahan di Ujung Utara Pulau Sumatra

24 Jam Tertahan di Ujung Utara Pulau SumatraRombongan LSP Marketing Kreatif Nasional (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Story - Aceh seperti sedang berdiri di depan pintu kedatangan dan menepuk bahu kami pelan. Seolah berkata perjalanan ini akan berjalan tenang. Kami datang bersama rombongan 12 Asesor BNSP dari LSP Marketing Kreatif Nasional. Kami berangkat dari Malang, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta dengan satu tujuan. Kami membawa misi kolaborasi kompetensi di Lhokseumawe. Tidak ada yang membayangkan bahwa Aceh sedang menyiapkan kejutan yang berbeda.

Pesawat kami menyentuh landasan Bandara Sultan Iskandar Muda pada Rabu 26 November 2025 pukul 13.54. Langit masih tersenyum. Angin masih ramah. Semua tampak biasa. Namun Aceh tiba tiba menutup wajahnya. Sinyal menghilang seperti menolak disapa. Hanya sedikit jejak Telkomsel yang masih berusaha bertahan. Kami mengira ini hanya gangguan kecil. Dugaan itu runtuh saat kami mendekati pusat kota. Aceh mematikan lampunya. Seluruh kawasan gelap. Listrik tumbang. Rasa tenang ikut roboh.

Kami mulai sadar bahwa kota sedang berjuang. Air datang dari segala arah. Beberapa dari kami memburu informasi dengan sisa sinyal yang tersisa. Dari potongan data yang kami dapat, Lhokseumawe sudah berstatus siaga bencana. Rencana bermalam di sana langsung hilang. Jalanan seperti menahan kami agar tidak melanjutkan perjalanan. Banda Aceh menjadi satu satunya tempat aman untuk bertahan. Kami mencari penginapan yang mau memeluk kami sementara.

Di tengah ketidakpastian itu sempat tersiar kabar dari kolaborator jika kami harus bertahan lebih lama disini. Namun tanpa sinyal kami hanya bisa duduk dan menunggu. Beberapa jam kemudian, Aceh seperti memberi napas panjang. Ada informasi bahwa kepulangan kami dipercepat menjadi 27 November dengan penerbangan sore. Kabar ini terdengar seperti uluran tangan. Kami khawatir bandara ikut terendam jika menunggu terlalu lama. Dari pagi hingga malam, hujan tidak berhenti. Aceh seperti menangis tanpa jeda.

Kami beruntung menemukan hotel di pusat kota. Saat malam turun, banyak warga dengan ekonomi lebih baik ikut mengungsi ke hotel yang sama. Hotel menjadi ruang aman. Wifi hotel menjadi satu satunya jembatan untuk memberi kabar pada keluarga. Kota di luar jendela terasa sunyi dan rapuh.

24 Jam Tertahan di Ujung Utara Pulau SumatraPantauan Udara Kondisi Banjir Aceh (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Mungkin sebagian dari kami ini pengalaman perjalanan pertama ke ujung utara pulau Sumatra, tapi Aceh justru menunjukkan sisi yang rapuh dan kuat dalam satu waktu. Saat pesawat lepas landas, Aceh terlihat seperti hamparan luka basah. Banjir menutup hampir seluruh Aceh Utara.Tulisan ini pun saya paksa jahit di perjalanan pulang. Ada rasa lega karena bisa keluar dengan selamat. Ada rasa sedih karena banyak warga sedang menghadapi masa sulitnya. Perjalanan 24 jam ini mengingatkan saya bahwa situasi bisa berubah kapan saja. Yang bisa dilakukan hanya tetap tenang, saling menjaga dan berharap Aceh segera kembali pulih.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

24 Jam Tertahan di Ujung Utara Pulau Sumatra

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!