Minggu, 06 JULI 2025 • 23:13 WIB

Sejumlah Ikan Koi di Aquarium Depan Taman Tugu Adipura Kota Malang Kembali Mati

Author

sejumlah ikan yang ada di aquarium depan Taman Tugu Adipura (Jl. Semeru) Kota Malang banyak yang mati. (X/@yusuf gunawan)

Malang – Di tengah riuhnya lalu lintas Kota Malang, tepat di depan Taman Tugu Adipura, sebuah akuarium besar biasanya memikat perhatian siapa saja yang melintas. Ikan-ikan koi yang berenang anggun di dalamnya menjadi jeda keindahan di antara hiruk-pikuk kota. Namun, Minggu pagi (6/7/2025) suasana berubah muram. Sejumlah ikan koi ditemukan mati di dalam akuarium tersebut.

Pemandangan itu mengejutkan warga dan pengguna jalan. Bukan hanya karena lokasi akuarium yang sangat strategis di Jl. Semeru, tapi juga karena ikan-ikan itu seolah menjadi simbol estetika ruang publik yang selama ini ikut menjaga wajah kota tetap teduh.

Dari pantauan warga, lampu dan pompa air akuarium diketahui mati sejak Sabtu malam (5/7/2025). Dugaan sementara, matinya sistem sirkulasi air menyebabkan kadar oksigen menurun drastis, membuat ikan-ikan koi tak bisa bertahan hidup.

Ironisnya, ini bukan kali pertama peristiwa serupa terjadi. Pada Maret 2024 lalu, tangan-tangan jahil sempat merusak ekosistem akuarium dengan memasukkan ikan lele ke kolam yang diperuntukkan bagi koi, menyebabkan insiden kematian massal sebelumnya.

Sejumlah ikan yang ada di aquarium depan Taman Tugu Adipura (Jl. Semeru) Kota Malang banyak yang mati. (X/@yusuf gunawan)

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi kita semua: bahwa estetika kota bukan hanya soal taman indah atau lampu jalan yang terang, tapi juga bagaimana kita merawat kehidupan di dalamnya—termasuk makhluk kecil seperti ikan koi, yang diam-diam menghibur dan memberi ketenangan bagi banyak mata yang lelah.

Kematian ikan-ikan ini bukan sekadar kabar duka bagi pencinta hewan atau pecinta kota, tapi juga ajakan reflektif. Siapa yang bertanggung jawab menjaga ruang publik tetap hidup? Siapa yang peduli ketika makhluk diam bersuara lewat sunyi?

Harapannya, kejadian ini menjadi pelajaran bersama. Agar ke depan, pemeliharaan ruang publik tak hanya menjadi formalitas, tapi benar-benar menjadi wujud cinta pada kota dan seluruh penghuninya—yang terlihat, maupun yang tidak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: X / @Yusuf Gunawan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU