Malang - Tiga tahun sudah berlalu sejak tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang. Untuk menghormati dan mengenang para korban, warga berkumpul melakukan doa bersama dan tabur bunga di Pintu 13 stadion, serta di monumen yang berdiri di sekitar lokasi.
Upacara mengenang ini berlangsung penuh haru. Beberapa warga membaca nama-nama korban di depan monumen, sementara lainnya ikut dalam doa bersama berharap agar peristiwa tragis itu tak pernah terulang lagi. Momen ini juga dijadikan refleksi terhadap pentingnya keselamatan dalam setiap penyelenggaraan acara publik.
Meski sudah lewat tiga tahun, luka yang ditinggalkan tragedi itu masih terasa. Kehadiran keluarga korban, suporter, dan warga sekitar menegaskan bahwa kenangan dan harapan untuk keadilan selamanya hidup dalam hati. Mereka tak hanya berhenti di ucapan, tapi juga mendorong agar ada perbaikan sistem, keamanan, dan regulasi yang lebih ketat.
Tabur bunga dan doa bersama ini bukan hanya sekadar ritual; ia menjadi simbol kepedulian bersama terhadap keselamatan manusia, pengakuan atas kehilangan, serta komitmen kolektif agar tidak ada lagi tragedi dengan skala serupa.
Semoga melalui peringatan ini semua pihak — pemerintah, penyelenggara event, keamanan, dan masyarakat — bisa terus belajar, memperbaiki prosedur, dan menjaga agar olahraga dan acara publik senantiasa berlangsung dalam suasana aman dan tertib.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara News