Malang - Ratusan lampion merah menghiasi halaman Kelenteng Eng An Kiong saat malam tiba. Cahaya lampion menerangi area kelenteng dan menciptakan suasana hangat menjelang perayaan Imlek Tahun Kuda Api. Warna merah tampak mendominasi setiap sudut bangunan, menarik perhatian warga yang datang silih berganti.
Sejak sore, masyarakat mulai memadati kawasan kelenteng yang berada di pusat Kota Malang. Mereka datang bersama keluarga untuk menikmati suasana sekaligus mengabadikan momen. Anak anak berlarian di antara deretan lampion yang tergantung rapi. Aroma dupa tercium kuat dari dalam ruang ibadah. Suara doa yang dipanjatkan jemaat menambah kekhidmatan suasana malam itu.
Kelenteng Eng An Kiong bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa. Bangunan ini menjadi salah satu kelenteng tertua di Kota Malang. Kelenteng ini berdiri sejak tahun 1825 atas prakarsa Letnan Kwee Sam Hway, tokoh keturunan militer dan diaspora Tionghoa pada masa itu.
Nama Eng An Kiong memiliki makna filosofis. Eng berarti abadi. An berarti damai atau selamat. Kiong berarti istana. Nama tersebut dimaknai sebagai istana keselamatan dalam keabadian Tuhan. Nilai tersebut terus dijaga dan diwariskan hingga kini.
Usia hampir dua abad menjadikan kelenteng ini bagian penting dari sejarah perkembangan Kota Malang. Arsitektur khas Tionghoa masih terpelihara dengan baik. Ornamen naga menghiasi beberapa bagian atap dan dinding. Ukiran kayu terlihat detail di pintu utama. Warna merah yang dominan memperkuat identitas budaya yang tetap bertahan di tengah perkembangan kota.
Setiap perayaan Imlek, pengurus kelenteng memasang lampion secara berderet di halaman. Suasana malam berubah menjadi pusat perhatian warga dan wisatawan lokal. Banyak pengunjung datang untuk berfoto dan merasakan atmosfer perayaan yang khas.
Kegiatan tahunan ini juga berdampak pada pergerakan ekonomi di sekitar kawasan. Pedagang musiman memanfaatkan momen untuk berjualan makanan dan pernak pernik Imlek. Kuliner khas dan aksesori bernuansa merah laris diburu pengunjung.
Kelenteng Eng An Kiong mencerminkan harmoni budaya di Kota Malang. Tradisi Tionghoa tetap hidup dan terbuka bagi masyarakat luas. Semarak lampion yang menyala setiap malam menjadi simbol harapan, keberuntungan, serta kebersamaan dalam menyambut tahun baru Imlek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung