Malang - Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League musim 2025/2026, kini memasuki pekan ke-25. Artinya kompetisi tinggal menyisakan sembilan pertandingan sebelum musim berakhir.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Arema FC masih tertahan di papan tengah klasemen. Dari 24 pertandingan yang telah dijalani, tim berjuluk Singo Edan itu berada di peringkat ke-11.
Catatan performanya belum stabil. Arema mencatat delapan kemenangan, tujuh hasil imbang, dan sembilan kekalahan. Raihan tersebut membuat posisi mereka masih cukup jauh dari target yang ditetapkan manajemen di awal musim.
Manajemen Arema FC sebelumnya menegaskan target tim tidak berubah. Mereka ingin menutup musim dengan posisi lima besar klasemen Super League 2025/2026.
Untuk mewujudkan target tersebut, perubahan besar dilakukan saat memasuki putaran kedua. Terutama di sektor pemain asing. Manajemen mendatangkan lima pemain asing baru setelah melepas jumlah pemain yang sama.
Tidak hanya itu, Arema juga meminjam beberapa pemain lokal berlabel tim nasional. Nama seperti Ilham Rio Fahmi, Hansamu Yama Pranata, Gianluca Pandeynuwu, hingga Leo Guntara diharapkan mampu meningkatkan kekuatan tim.
Namun kondisi di lapangan belum sesuai harapan. Hingga pekan ke-25, peluang Arema untuk menembus lima besar masih cukup berat.
Di putaran kedua, Singo Edan sudah menjalani tujuh pertandingan. Hasilnya tiga kemenangan, satu imbang, dan tiga kekalahan.
Masalah terbesar terlihat di sektor pertahanan. Dalam tujuh laga tersebut, Arema mencetak 12 gol tetapi juga kebobolan 11 gol.
Secara keseluruhan hingga pekan ke-24, Arema telah memasukkan 35 gol dan kebobolan 34 gol. Selisih golnya hanya +1.
Jika melihat peta klasemen, Arema masih tertinggal cukup jauh dari papan atas. Mereka terpaut sekitar 10 poin dari Persita Tangerang yang berada di posisi kelima. Selisih delapan poin juga memisahkan Arema dari Persebaya yang berada di peringkat keenam.
Tugas berat pun menanti dalam sembilan pertandingan tersisa.
Kondisi tim juga belum stabil dalam beberapa laga terakhir. Arema bermain imbang 2-2 melawan Madura United. Kemudian kalah 1-3 saat bertandang ke markas Borneo FC di Stadion Segiri. Terakhir, mereka takluk 3-4 dari Bali United di Stadion Kanjuruhan.
Masalah yang muncul hampir sama. Lini belakang sering gagal mengantisipasi bola mati. Tim juga kerap kesulitan menghadapi serangan balik lawan.
Situasi semakin sulit ketika beberapa pemain bertahan tidak bisa tampil. Dalam laga terakhir misalnya, Wallison Maia absen karena cedera. Sementara Matheus Blade harus menepi akibat akumulasi kartu kuning.
Akibatnya lini pertahanan terlihat kurang solid. Tiga dari empat gol Bali United lahir dari situasi serangan balik yang tidak terputus di lini tengah.
Dua gol Teppei Yachida pada menit ke-22 dan 68 terjadi karena pemain belakang gagal menghentikan counter attack. Situasi serupa juga terjadi pada gol Diego Campos di menit ke-28.
Ironisnya, dalam pertandingan yang berlangsung Jumat malam itu Arema sebenarnya mendominasi permainan. Penguasaan bola mencapai 69 persen berbanding 31 persen untuk Bali United.
Namun efektivitas menjadi pembeda. Bali United hanya mencatat tiga tembakan tepat sasaran dan semuanya berbuah gol. Ditambah satu gol bunuh diri Betinho Filho di menit 90+3.
Sementara Arema memiliki enam tembakan ke gawang. Tiga di antaranya berhasil menjadi gol melalui Dalberto Luan Belo pada menit ke-64 dan 78, serta gol bunuh diri Kadek Arel pada menit 90+4.
Pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, mengakui permainan terbuka timnya membuat lini pertahanan menjadi lebih rentan.
Menurut pelatih asal Brasil tersebut, timnya harus mengambil risiko menyerang setelah tertinggal lebih dulu.
Ia menjelaskan ketika tim tertinggal dua gol, pemain harus lebih agresif menyerang untuk mengejar ketertinggalan. Situasi itu membuat pertahanan menjadi lebih terbuka.
Marcos juga mengakui babak pertama menjadi titik lemah dalam pertandingan tersebut. Ia menilai secara kolektif tim tidak tampil baik sejak awal laga.
Kebobolan empat gol dalam satu pertandingan juga menjadi catatan buruk bagi Arema musim ini. Ini merupakan kali pertama timnya kemasukan empat gol sejak ia menangani Singo Edan.
Situasi tersebut membuatnya cukup kecewa. Ia menilai tim perlu memperbaiki mental bertanding agar tidak mudah kehilangan fokus dalam pertandingan.
Dengan sembilan laga tersisa, Arema FC masih memiliki peluang memperbaiki posisi. Namun perbaikan di sektor pertahanan menjadi pekerjaan utama jika Singo Edan ingin kembali bersaing di papan atas klasemen musim ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aremafc.com