News - Kota Malang menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sampah. Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang saat ini hanya mengoperasikan sekitar 49 armada pengangkut sampah. Jumlah ini belum sebanding dengan volume sampah harian yang terus meningkat.
Keterbatasan armada membuat proses pengangkutan tidak berjalan optimal. Di beberapa titik, sampah mulai menumpuk karena tidak terangkut tepat waktu. Kondisi ini berpotensi memicu masalah baru, mulai dari bau tidak sedap hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi menjadi faktor utama peningkatan volume sampah. Setiap hari, produksi sampah rumah tangga dan komersial terus bertambah. Namun, kapasitas armada pengangkut tidak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Situasi ini menuntut respons cepat dari pemerintah kota. Penambahan armada menjadi langkah mendesak untuk mengejar kebutuhan layanan kebersihan. Selain itu, pembenahan sistem pengelolaan sampah juga perlu dilakukan agar distribusi pengangkutan lebih efisien.
Tidak hanya soal jumlah armada, pengaturan rute dan jadwal pengangkutan juga perlu diperbaiki. Optimalisasi ini bisa membantu armada yang ada bekerja lebih efektif. Di sisi lain, kolaborasi dengan masyarakat juga menjadi kunci penting dalam mengurangi beban sampah harian.
Edukasi terkait pemilahan sampah dari rumah perlu diperkuat. Jika sampah organik dan anorganik dipisahkan sejak awal, volume sampah yang harus diangkut bisa ditekan. Langkah sederhana ini dapat membantu meringankan tekanan terhadap armada yang terbatas.
Krisis armada ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Perlu sinergi antara kebijakan, infrastruktur, dan kesadaran masyarakat. Tanpa langkah konkret, persoalan ini berpotensi terus berulang dan berdampak lebih luas pada kualitas lingkungan di Kota Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: