Sabtu, 18 APRIL 2026 • 10:27 WIB

Arema Kejar Memori Baru di Kanjuruhan, Laga Lawan Persebaya Jadi Ujian Emosi Malang Raya

Author

Management Arema FC (Foto Istimewa)
Malang - Manajemen Arema FC bersikeras menggelar laga kandang melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan. Laga pekan ke-30 Super League Indonesia musim 2025-2026 dijadwalkan berlangsung Selasa, 28 April 2026 pukul 15.30 WIB. Keputusan ini memicu pro dan kontra di tengah masyarakat Malang Raya.

General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi, menegaskan langkah ini bukan untuk membuka luka lama pasca Tragedi Kanjuruhan. Ia menyebut klub ingin menghadirkan memori baru yang lebih baik bagi keluarga korban dan Aremania.

Selama empat tahun terakhir, Arema tidak pernah menjamu Persebaya di Malang. Laga derby Jawa Timur selalu digelar di luar kota. Situasi itu dinilai tidak ideal bagi identitas klub dan basis suporternya. Manajemen melihat momentum ini sebagai kesempatan kembali ke “rumah sendiri”.

“Kami ingin memberi pengalaman yang lebih baik, bukan menghapus ingatan,” ujar Yusrinal. Ia menilai kehadiran laga besar di Kanjuruhan bisa menjadi simbol kebangkitan, bukan sekadar pertandingan biasa.

Namun penolakan masih muncul. Beberapa pihak yang mengatasnamakan keluarga korban menyuarakan keberatan. Suara ini juga diperkuat oleh rekomendasi Polres Malang bersama Forkopimda Kabupaten Malang yang meminta laga tidak digelar di Kanjuruhan untuk sementara waktu.

Arema mengklaim telah melakukan komunikasi intens dengan keluarga korban. Yusrinal menyebut hubungan yang terjalin selama ini berjalan baik. Pihak klub juga berupaya merangkul berbagai yayasan yang menaungi keluarga korban di Malang.

“Kami terus membersamai mereka sejak awal. Komunikasi tetap berjalan,” katanya.

Di sisi lain, keputusan akhir tetap berada di tangan aparat keamanan. Meski Polda Jawa Timur telah memberi sinyal positif, izin resmi pertandingan tetap menjadi kewenangan Polres Malang.

Manajemen Arema mengaku telah menyiapkan seluruh aspek teknis pertandingan. Mereka juga mengajak Aremania untuk ikut menjaga kondusivitas jika laga benar digelar di Kanjuruhan.

Situasi ini menjadi ujian penting. Bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga tentang bagaimana Malang Raya berdamai dengan masa lalu dan membangun ruang aman untuk masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU