MALANG - Kawasan Kayutangan Heritage di Kota Malang kini tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan kuliner, tetapi juga menjadi panggung hidup bagi warga dan wisatawan yang ingin “kembali ke masa lalu” dengan cara yang unik dan berkesan. Di antara bangunan kolonial yang masih berdiri gagah dan trotoar khas tempo dulu yang telah direvitalisasi, terdapat sebuah tempat yang kini ramai dikunjungi karena menawarkan pengalaman yang berbeda: Maltedoe.
Maltedoe: Lebih dari Sekadar Kedai Kopi
Maltedoe bukan hanya sekadar kedai kopi bergaya vintage. Terletak di Jalan Basuki Rahmat jantung dari kawasan Kayutangan Heritage tempat ini kini dikenal sebagai studio foto tematik yang mengusung konsep budaya dan sejarah lokal. Di sini, pengunjung dapat menyewa pakaian adat khas Malangan dan berpose dengan latar bangunan tua dan ornamen zaman dulu yang ditata sedemikian rupa untuk menciptakan suasana era 1900-an.
Pakaian adat yang tersedia cukup beragam, mulai dari kebaya dan kain batik bagi perempuan, hingga beskap, blangkon, dan sarung bagi laki-laki. Anak-anak pun tak ketinggalan kostum khusus untuk mereka juga disediakan. Bahkan, terdapat berbagai properti pendukung seperti payung antik, koper rotan, dan sepeda onthel yang makin memperkuat kesan masa lalu.
Kadai Kopi Maltedoe yang sekaligus menyewakan baju khas malangan. (Instagram/ @maltedoe.mlg)
Menghidupkan Budaya Lewat Gaya
Program sewa busana adat Malangan ini menjadi bagian dari semangat masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam mengangkat kembali warisan budaya yang nyaris terlupakan. Bagi sebagian orang, mengenakan pakaian adat hanya dilakukan saat momen peringatan hari besar seperti Hari Kartini atau upacara adat tertentu. Namun di Maltedoe, mengenakan baju adat menjadi pengalaman sehari-hari yang bisa dinikmati siapa saja sekaligus menjadi sarana edukasi dan pelestarian budaya.
Kegiatan ini juga menarik perhatian banyak anak muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z, yang melihat kegiatan berfoto tidak hanya sebagai dokumentasi visual, tetapi juga ekspresi identitas dan kreativitas. Dengan latar arsitektur kolonial yang otentik dan suasana kampung heritage yang tetap terjaga, hasil jepretan dari Maltedoe seringkali menghiasi laman media sosial dengan estetika khas "tempo doeloe".
Daya Tarik Wisata Kultural di Tengah Kota
Kawasan Kayutangan yang dahulu hanya dilewati sebagai jalur lalu lintas, kini menjelma menjadi magnet wisata kota yang menyatukan sejarah, seni, dan gaya hidup modern. Inisiatif seperti yang dilakukan Maltedoe memberikan nilai tambah bagi kawasan ini. Tak hanya mempercantik citra kota, tetapi juga memperkaya pengalaman wisatawan yang datang.
Menurut beberapa pengunjung, berfoto dengan busana adat Malangan memberikan sensasi berbeda dibandingkan sekadar selfie di tempat wisata biasa. Mereka merasa seolah menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Bahkan, beberapa pengunjung datang bersama keluarga besar dan menjadikan sesi foto ini sebagai dokumentasi keluarga yang berkesan.
Tumbuh dari Kesadaran Kolektif Warga
Keberadaan Maltedoe dan program ini juga tumbuh dari semangat kolektif masyarakat dan pelaku UMKM di sekitar Kayutangan Heritage. Mereka sadar bahwa pelestarian kawasan bersejarah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga butuh keterlibatan aktif masyarakat. Dengan menjadikan sejarah sebagai bagian dari pengalaman wisata, pelestarian budaya pun dapat hidup berdampingan dengan geliat ekonomi kreatif.
Hal ini juga membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar baik sebagai penyedia busana, fotografer lokal, hingga pemandu wisata sejarah. Kombinasi antara estetika masa lalu dan pendekatan digital masa kini menjadikan konsep ini sangat relevan dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung