Hotel Tugu Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang – Di tengah modernitas Kota Malang yang terus berkembang, berdiri anggun sebuah bangunan yang membawa kita kembali ke masa Hindia Belanda: Hotel Tugu Malang. Bukan sekadar tempat menginap, hotel ini adalah peninggalan kolonial yang kini menjelma menjadi museum hidup.
Terletak strategis di depan Alun-alun Tugu dan Balai Kota, bangunan ini dulunya merupakan rumah seorang kolektor barang antik, yang akhirnya diubah menjadi hotel oleh anaknya seorang pengusaha lokal yang ingin menyelamatkan sejarah lewat nuansa klasik.
Baca juga: Tong-Tong Night Market 2025: Perpaduan Harmoni Budaya dan Semangat UMKM
Masuk ke lobi Hotel Tugu, kamu seperti disambut suasana tempo doeloe. Lampu gantung kristal, mebel jati ukiran tangan, hingga lukisan-lukisan besar bergaya era kolonial menghiasi setiap sudut ruangan. Bahkan ada beberapa ruang yang didedikasikan sebagai galeri seni dan museum kecil, lengkap dengan artefak Jawa kuno, foto dokumentasi zaman Belanda, serta ornamen Cina-Peranakan.
Yang menarik, hotel ini tidak hanya dikagumi oleh wisatawan dalam negeri, tapi juga jadi tempat langganan tokoh-tokoh penting dari luar negeri. Banyak dari mereka yang terpikat oleh sentuhan budaya dan sejarah yang dijaga dengan sepenuh hati.
Hotel Tugu juga dikenal dengan sajian kuliner klasik khas Jawa dan Belanda. Salah satunya adalah rijsttafel, jamuan makan khas kolonial yang terdiri dari puluhan jenis lauk-pauk dalam satu sajian mewah. Sebuah pengalaman kuliner yang tidak hanya mengenyangkan, tapi juga membangkitkan rasa nostalgia.
Jadi, jika kamu ingin merasakan sensasi “bermalam di masa lalu” namun tetap nyaman di masa kini, Hotel Tugu Malang adalah destinasi yang wajib kamu datangi. Di tempat ini, sejarah tidak sekadar dipajang tapi dihidupkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online