Kedai kopi Sebastian (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang - Di kawasan heritage Kayutangan, sebuah kedai kopi baru menarik perhatian dengan konsep yang berbeda. Bernama Sebastien, kedai ini berada di sebuah rumah tua bergaya vintage di gang sempit Jalan Basuki
Rahmad. Bangunan dua lantai berarsitektur jengki dari tahun 1960-an disulap menjadi tempat ngopi yang hangat dan penuh karakter, sambil tetap mempertahankan banyak elemen aslinya: lantai kayu, rel kereta, cat tembok yang sudah lapuk, hingga perabot antik.
Pemiliknya punya visi tidak hanya sebagai bisnis, tetapi juga bagian dari usaha melestarikan suasana lama Kayutangan dan mengenalkan kembali budaya setempat, khususnya bahasa. Di sini pelanggan bisa melihat menu yang ditulis dalam tiga bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Walikan Malang. Bahkan ada promo unik: semakin “keren” gaya bahasanya bila menggunakan Walikan harganya bisa lebih murah dibanding yang memakai bahasa formal.
Kedai kopi Sebastian (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Kedai ini juga melibatkan komunitas-komunitas lokal heritage sebagai bagian dari jalur wisata sejarah. Saat akhir pekan, pengunjung komunitas heritage trail sering singgah di Sebastien sebagai “pit stop” sambil menikmati kopi dan suasana. Suasana santai plus interior jadul yang masih asli membuat kedai ini cocok sebagai tempat ngobrol, bersantai, atau kerja ringan.
Jam buka kedai ini cukup ramah: mulai pagi sampai malam, dari jam 7 sampai jam 9. Kehadirannya menambah warna di persinggungan antara sejarah dan kreativitas lokal menggabungkan rasa nostalgia dengan nuansa modern serta semangat kebersamaan di kota Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung