Gate 13 Stadion Kanjuruhan saksi bisu tragedi kanjuruhan. (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang - Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Malang, menyimpan luka yang tak akan pernah hilang dari ingatan publik. Pada 1 Oktober 2022, di Gate 13 stadion itu, 135 nyawa melayang dalam sebuah tragedi kelam yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia. Gate 13 bukan sekadar pintu keluar-masuk, melainkan simbol duka, kehilangan, sekaligus saksi bisu dari peristiwa yang tak seharusnya terjadi.
Hingga hari ini, Gate 13 menjadi titik ziarah keluarga korban. Di sana doa-doa dipanjatkan, bunga ditaburkan, dan air mata masih sering jatuh. Bagi mereka, pintu itu adalah ruang kenangan, tempat terakhir sebagian dari orang-orang tercinta terlihat. Dari situlah lahir gagasan untuk menjadikan Gate 13 bukan sekadar bagian stadion, tetapi sebuah museum memorial.
Awalnya, muncul wacana membongkar Gate 13 dalam renovasi stadion. Namun penolakan keras datang dari keluarga korban. Mereka menegaskan bahwa Gate 13 bukan benda mati yang bisa dihilangkan begitu saja, melainkan bukti fisik sekaligus pengingat nyata tentang sebuah tragedi yang merenggut ratusan nyawa.
Akhirnya, keaslian Gate 13 dipertahankan. Struktur tangga dan pintu diperkuat, sementara dua ruang kosong di sisi tangga akan difungsikan sebagai galeri memori. Museum ini nantinya dikelola oleh yayasan yang mewakili keluarga korban. Artinya, keluarga dan masyarakat terlibat langsung dalam merawat memori ini, bukan sekadar proyek formalitas.
Mengapa Museum Ini Penting?
Ada beberapa alasan mengapa museum di Gate 13 begitu krusial:
1. Pengingat agar tragedi tak terulang
Museum ini menjadi alarm abadi: standar keamanan stadion, jalur evakuasi, kapasitas tribun, hingga profesionalisme pengelolaan harus selalu diprioritaskan.
2. Ruang duka dan penyembuhan
Bagi keluarga korban, museum adalah ruang yang lebih terhormat untuk mengenang. Bukan hanya ziarah spontan, tapi wadah untuk merenung, berdoa, sekaligus menemukan sedikit ketenangan.
3. Keadilan simbolik
Tragedi Kanjuruhan menyisakan banyak pertanyaan dan luka keadilan. Kehadiran museum menjadi pengakuan bahwa korban layak dihormati dan publik berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
4. Edukasi lintas generasi
Museum bukan hanya tentang masa lalu, melainkan juga tentang masa depan. Generasi mendatang akan belajar bahwa sepak bola bukan sekadar hiburan, tapi juga tentang hak asasi manusia, keamanan publik, dan tanggung jawab bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Opini