Timo Scheunemann (Foto Istimewa)
Malang - Timo adalah salah satu sosok langka di dunia sepak bola Indonesia. Ia lahir di Kediri pada 29 November 1973 dari keluarga Jerman, tetapi tumbuh sebagai anak Jawa yang dekat dengan budaya lokal. Ia pernah menulis “German outside, Indonesian inside”. Kalimat itu menggambarkan dirinya dengan tepat.
Masa kecil di Kediri dan Malang membuatnya fasih berbahasa Indonesia dan Jawa. Ia tumbuh seperti anak kampung. Ia merasa Indonesia bukan tempat singgah, tetapi rumah yang ia pilih.
Karier sepak bolanya dimulai sejak remaja. Beasiswa membawanya ke Amerika Serikat pada 1993 sampai 1996. Ia membela Master Mustangs College Division I sambil kuliah Ilmu Sosial. Ia sempat merasakan atmosfer laga melawan pemain seperti Cobi Jones dan Kasey Keller. Tahun 1997 ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Persiba Balikpapan. Ia merasakan kerasnya kompetisi lokal hingga kerusuhan 1998 yang membuat liga terhenti.
Setelah itu ia pindah ke Tampines Rovers di Singapura. Ia juga menjalani tes di Eintracht Frankfurt dan Stuttgarter Kickers di Jerman serta Gillingham FC di Inggris. Kariernya berjalan baik. Namun cedera lutut berat pada 1999 menghentikan langkahnya sebagai pemain. Dunia bermain selesai, tetapi jalur baru terbuka.
Timo memilih jalur kepelatihan. Ia menjadi asisten pelatih di Los Angeles Soccer Club dan meraih lisensi NSCAA setara UEFA C pada tahun yang sama. Ia melanjutkan pendidikannya hingga memegang UEFA B License pada 2006 dan UEFA A License pada 2007.
Perjalanannya sebagai pelatih tersebar di banyak tempat. Ia menangani tim putri Wesley International School, FAC Futsal Ausbildung Centrum, Persikoba Batu, Malang Football Club, Timnas Putri Indonesia, Persema Malang, hingga Persiba Balikpapan. Ia menaruh perhatian besar pada pembinaan usia dini, kedisiplinan teknik, dan menghapus kebiasaan buruk yang terbentuk sejak kecil. Ia percaya perubahan sepak bola Indonesia harus dimulai dari fondasi.
Pada 2011 ia pernah mengeluarkan pernyataan yang membuat publik terkejut. “Saya rela dipenjara asal Indonesia bisa masuk Piala Dunia.” Itu menunjukkan rasa cintanya. Ia mungkin berwajah bule, tetapi hatinya sudah lama milik Indonesia.
Timo kini tinggal di Dau, Malang, bersama istrinya Devi dan dua anaknya, Shania Cinta dan Brandon Marcel. Keduanya mengikuti jejak sang ayah dan bermain untuk Arema FC. Saat ini Timo menjadi pelatih Timnas Putri U-16 dan mempersiapkan skuat untuk Piala AFF Wanita 2025 dan Kualifikasi Piala Asia U-17 2026. Ia juga pernah terlibat di program Garuda Select sebagai penerjemah.
Timo bukan hanya pelatih. Ia adalah sosok yang datang untuk memberi. Ia lahir dalam dua budaya, tetapi memilih Indonesia sebagai taman bermainnya. Selama sepak bola Indonesia terus berjalan, nama Timo Scheunemann akan tetap dikenal sebagai pelatih yang mencintai negeri ini tanpa syarat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online