Simpang Balapan Malang (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)
Malang - Tidak banyak yang tahu, Kota Malang pernah memiliki arena pacuan kuda pada masa kolonial Belanda. Lokasinya berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Simpang Balapan.
Pada era Belanda, pacuan kuda menjadi hiburan elite. Arena ini digunakan untuk lomba dan kegiatan sosial kalangan Eropa. Aktivitas tersebut menandai Malang sebagai kota peristirahatan dan hiburan kolonial.
Nama Balapan berasal dari fungsi kawasan itu sendiri. Area tersebut menjadi lintasan pacuan kuda terbuka. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai tempat lomba kuda berlangsung secara rutin.
Seiring perubahan zaman, fungsi kawasan ikut bergeser. Arena pacuan kuda tidak lagi digunakan. Pembangunan kota mengubah wajah kawasan menjadi simpang lalu lintas dan permukiman.
Meski fisiknya hilang, nama Simpang Balapan tetap bertahan. Toponimi ini menjadi penanda sejarah kota. Nama kawasan menyimpan memori aktivitas masa lalu yang jarang dibahas.
Kawasan ini kini menjadi bagian penting mobilitas Kota Malang. Arus kendaraan padat melintas setiap hari. Aktivitas ekonomi dan hunian tumbuh di sekitarnya.
Cerita tentang pacuan kuda menunjukkan lapisan sejarah Malang yang beragam. Kota ini tidak hanya berkembang dari pendidikan dan militer, tetapi juga hiburan kolonial.
Simpang Balapan menjadi contoh bagaimana sejarah kota bertransformasi. Ruang hiburan elite berubah menjadi ruang publik modern. Jejaknya hidup melalui nama dan ingatan kolektif warga Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung