Salah Satu Pengisi Acara Cap Go Meh (Foto Istimewa)
Malang - SMAK Kolese St Yusuf Malang menggelar perayaan Cap Go Meh pada 3 Maret 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Keberagaman dalam Kesatuan”. Sekolah memilih tema tersebut untuk menegaskan komitmen terhadap kolaborasi dan toleransi di tengah perbedaan budaya yang hidup di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Perayaan ini juga menjadi bagian dari rangkaian ulang tahun Yayasan Kolese St Yusuf atau yang dikenal dengan Hua Ind. Melalui momentum ini, panitia ingin mengingatkan kembali semangat para pendahulu yang telah membangun fondasi kebersamaan dan sikap saling menghargai di lingkungan pendidikan tersebut.
Ketua Hua Yi Chinese Learning Center Kota Malang, Amelia, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan akar budaya Tionghoa kepada siswa. Ia menilai pengenalan budaya penting agar generasi muda memahami proses akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia yang telah berlangsung lama.
Menurutnya, sekolah perlu menghadirkan ruang belajar yang mendorong siswa memahami budaya lain secara langsung. Dengan begitu, siswa dapat tumbuh dengan sikap terbuka dan saling menghormati perbedaan.
Secara historis, Cap Go Meh merupakan perayaan yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Tradisi ini dikenal sebagai festival lentera. Masyarakat biasanya merayakannya dengan menyalakan lampion sebagai simbol kebersamaan dan kegembiraan di bawah cahaya bulan purnama.
Dalam perayaan di sekolah tersebut, panitia menghadirkan berbagai pertunjukan budaya dan kegiatan edukatif. Siswa mengikuti workshop wayang potehi, Chinese painting, serta kaligrafi. Para pengisi acara berasal dari praktisi dan pengajar yang berpengalaman, termasuk guru asli dari Tiongkok.
Panitia juga menggandeng sejumlah komunitas budaya di Kota Malang. Di antaranya Klenteng Eng An Kiong, Confucius Institute, dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia. Kolaborasi ini memperkaya materi edukasi dan pengalaman budaya yang diterima siswa.
Tidak hanya itu, setiap stan makanan tradisional dilengkapi informasi mengenai sejarah dan asal-usul hidangan yang disajikan. Siswa dapat mengenal latar belakang kuliner Tionghoa secara lebih mendalam.
Panitia menyebut kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang keberagaman budaya. Sekolah berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat rasa toleransi dan persatuan di kalangan pelajar. Tema “Keberagaman dalam Kesatuan” pun diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung