Gulali yang di Buat Secara Tradisional (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang - Di tengah banyaknya jajanan modern, penjual permen gulali masih bisa ditemukan di Malang Selatan. Salah satunya adalah Pak Maman yang tetap setia berjualan, terutama saat momen Lebaran.
Setiap tahun, kehadiran Pak Maman selalu dinanti. Ia menjajakan gulali dengan cara tradisional. Gula yang dipanaskan dibentuk langsung di depan pembeli. Proses ini menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak.
Mayoritas pembelinya adalah anak-anak. Mereka tertarik pada warna dan bentuk gulali yang beragam. Ada bentuk bunga, hewan, hingga karakter sederhana. Harga yang terjangkau membuat jajanan ini tetap diminati.
Momen Lebaran menjadi waktu paling ramai. Banyak keluarga berkumpul di kampung halaman. Anak-anak memanfaatkan suasana libur untuk bermain sekaligus membeli jajanan tradisional.
Pak Maman menjaga cara berjualan yang sudah ia lakukan bertahun-tahun. Ia tidak beralih ke konsep modern. Interaksi langsung dengan pembeli menjadi bagian penting dari pengalaman membeli gulali.
Keberadaan penjual seperti Pak Maman menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat. Meski jumlahnya semakin sedikit, minat masyarakat belum sepenuhnya hilang.
Fenomena ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan kuliner sederhana. Gulali bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman dan kenangan masa kecil.
Di Malang Selatan, cerita seperti ini masih bisa ditemukan. Pak Maman dan gulalinya menjadi bagian kecil dari kehidupan Lebaran yang hangat dan dekat dengan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung