Tradisi Arak Arakan Kambing (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)
Malang - Suasana Iduladha di kawasan Kidul Pasar, Jalan Kiai Tamin, Kota Malang, selalu memiliki warna yang berbeda. Di tengah gema takbir dan kesibukan warga mempersiapkan penyembelihan hewan kurban, masyarakat setempat tetap menjaga satu tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun sejak tahun 1985, yakni pawai atau arak-arakan hewan kurban keliling kampung.
Tradisi ini bukan sekadar iring-iringan kambing dan sapi menuju lokasi penyembelihan. Bagi warga Kidul Pasar, arak-arakan menjadi bagian penting dari syiar Islam sekaligus simbol kebersamaan masyarakat yang masih bertahan hingga sekarang.
Sejak pagi hari, puluhan kambing dan beberapa ekor sapi mulai dihias oleh warga. Ada yang diberi kalung bunga, pita warna-warni, hingga aksesori sederhana buatan anak-anak kampung. Hewan-hewan kurban kemudian diarak mengelilingi perkampungan sejauh kurang lebih 1,5 kilometer, melintasi kawasan Kampung Kidul Pasar hingga Kampung Temenggungan.
Sepanjang perjalanan, suasana kampung berubah menjadi penuh semangat. Anak-anak berlarian mengikuti iring-iringan hewan kurban sambil bersorak. Warga berdiri di depan rumah, gang, hingga pinggir jalan untuk menyaksikan pawai yang hanya berlangsung setahun sekali tersebut.
Tradisi ini juga menyimpan kepercayaan unik yang masih diyakini sebagian warga. Hewan kurban yang diarak keliling kampung dipercaya menjadi lebih segar, tenang, dan tidak lemas sebelum disembelih. Karena itu, arak-arakan dianggap bukan hanya bagian dari perayaan, tetapi juga bentuk perlakuan baik terhadap hewan kurban sebelum proses penyembelihan dilakukan.
Bagi masyarakat setempat, momen ini juga menjadi cara mempererat hubungan antarwarga. Persiapan arak-arakan dilakukan bersama-sama, mulai dari menghias hewan, mengatur rute perjalanan, hingga menjaga keamanan selama pawai berlangsung. Semua terlibat tanpa memandang usia.
Setelah pawai selesai, seluruh hewan kurban dikumpulkan di depan Masjid Nur Kampung Kidul Pasar. Di lokasi inilah proses penyembelihan dilakukan secara bersama-sama. Warga kemudian bergotong royong membagikan daging kurban kepada masyarakat sekitar.
Tradisi arak-arakan kurban di Kidul Pasar menjadi bukti bahwa budaya lokal dan nilai keagamaan bisa berjalan beriringan. Di tengah perubahan zaman dan kehidupan kota yang semakin modern, warga Kidul Pasar tetap menjaga warisan kampung mereka dengan penuh semangat.
Bagi masyarakat Kota Malang, tradisi ini bukan hanya tontonan tahunan yang meriah. Arak-arakan hewan kurban telah menjadi identitas kampung sekaligus pengingat bahwa semangat berbagi dan kebersamaan masih hidup di tengah masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung