Malang – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Alun-alun Kota Malang, berdiri sebuah bangunan ikonik yang telah melewati berbagai fase sejarah: Sarinah Malang. Di balik wajahnya sebagai pusat perbelanjaan, siapa sangka bangunan ini menyimpan rekam jejak panjang sejak abad ke-19, bermula sebagai rumah dinas bupati, berubah menjadi tempat elite kolonial bersosialisasi, hingga menjadi saksi sidang penting cikal bakal parlemen Indonesia.
Bangunan ini dulunya dikenal sebagai Societeit Concordia, sebuah tempat berkumpul masyarakat Eropa yang berdiri di lokasi bekas kediaman Raden Tumenggung Notodiningrat, Bupati Malang pertama pada tahun 1820. Gedung ini menjadi simbol status sosial kala itu lengkap dengan fasilitas biliar, perpustakaan, bahkan arena ice skating di masa kejayaannya.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Museum: Menemukan Makna di Balik Dinding Museum Brawijaya
Namun masa-masa kolonial itu berlalu. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, pada tahun 1947, gedung ini punya peran baru: menjadi lokasi sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) organ perintis parlemen nasional yang dihadiri tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Bung Tomo, hingga Ki Hajar Dewantara. Gedung ini pun menjadi saksi penting perjalanan bangsa.
Sayangnya, di tahun yang sama, gedung ini harus dibumihanguskan sebagai bagian dari strategi perang gerilya rakyat Malang agar tidak dimanfaatkan kembali oleh tentara Belanda. Setelahnya, lokasi ini sempat kosong sebelum akhirnya dibangun kembali menjadi Sarinah Malang pada awal 1970-an.
Nama "Sarinah" diambil dari sosok pengasuh kecil Ir. Soekarno, yang sangat dihormati oleh sang proklamator. Di sinilah nilai sentimental bangunan ini bermula. Bukan sekadar pusat belanja, Sarinah menjadi ruang yang memberi penghormatan pada peran perempuan dalam pendidikan dan pembentukan karakter bangsa.
Pada era 1990-an, Sarinah mengalami renovasi besar. Lantai demi lantai dipenuhi oleh gerai modern, bioskop, dan restoran cepat saji seperti McDonald's dan Hard Rock Café yang menjadi simbol modernitas kala itu. Bahkan, Sarinah sempat menjadi destinasi favorit generasi muda Malang di masa itu.
Kini, di usia yang kian matang, Sarinah tidak hanya berdiri sebagai pusat perbelanjaan. Di lantai satu, toko-toko pakaian dan suvenir menyambut pengunjung. Lantai tiga menjadi rumah bagi Movimax, bioskop modern yang menjadi favorit keluarga. Dan menariknya, lantai dua tengah disiapkan sebagai ruang relokasi sementara bagi para pedagang terdampak kebakaran Malang Plaza. Bangunan ini terus hidup dalam dinamika sosial kota.
Pemerintah Kota Malang juga telah menggagas rencana revitalisasi kawasan ini sebagai bagian dari koridor heritage Kayutangan. Upaya ini menjadi penting agar nilai sejarah dan fungsi modern bangunan bisa berjalan beriringan, menjadikan Sarinah bukan sekadar ruang komersial, tapi juga ruang kultural yang berakar kuat.
Sarinah Malang adalah cermin perjalanan sebuah kota dari masa kolonial, era perjuangan, hingga semangat adaptasi modern. Ia mengajarkan kita bahwa bangunan bukan sekadar beton dan batu bata, tapi ruang yang menyimpan ingatan kolektif, nilai perjuangan, dan semangat zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung