Senin, 07 JULI 2025 • 22:17 WIB

Jejak Sang Panglima: Menelusuri Napak Tilas Jenderal Sudirman di Museum Brawijaya Malang

Author

Ranjang saat Jenderal Sudirman bergerilya di wilayah Jawa Timur (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang – Di tengah hiruk-pikuk Kota Malang yang terus berkembang, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan napas panjang sejarah perjuangan bangsa: Museum Brawijaya. Di balik dinding-dinding tuanya yang kokoh, tersimpan kisah tentang keberanian, keteguhan, dan semangat yang tak pernah padam salah satunya adalah kisah sang Panglima Besar, Jenderal Sudirman.

Saat pengunjung melangkah masuk ke ruang pamer utama, suasana berubah seketika. Aura khidmat terasa menyelimuti, seakan waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang pada cerita-cerita heroik dari masa lalu. Di sana, terpajang foto-foto Jenderal Sudirman, mulai dari potret saat memimpin gerilya di hutan-hutan Desa Loceret, Bajulan, Nganjuk, hingga saat beliau melakukan inspeksi pasukan di Malang.

Baca juga: Bakso Akrom - Legendnya Bakso Malang Dari Gang Sempit.

Namun, bukan hanya gambar yang berbicara. Peralatan gerilya yang pernah digunakan Jenderal Sudirman saat memimpin pasukan di tengah kondisi kesehatan yang buruk, kini tersimpan rapi. Ada tandu kayu, tas lapangan, serta perlengkapan sederhana yang dulu menjadi saksi bisu perjuangannya melawan penjajah.

Tak jauh dari sana, berdiri megah sebuah patung perunggu setinggi 4,5 meter, menggambarkan sang jenderal gagah di atas kudanya. Patung seberat 5,5 ton itu tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tapi juga pengingat bahwa semangat patriotisme tidak boleh pudar di tengah generasi masa kini.

Patung Jenderal Sudirman yang berada di museum brawijaya. (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Di lobi museum, relief perjuangan Jenderal Sudirman terpahat di dinding menceritakan perjalanan beliau sebagai Panglima Besar, dari medan tempur hingga detik-detik terakhir hidupnya yang tetap diisi dengan pengabdian bagi tanah air.

Namun Museum Brawijaya bukan hanya tentang Sudirman. Jejak-jejak perjuangan Indonesia terpatri di berbagai sudut ruangan lainnya. Ada senjata rampasan dari penjajah, mulai dari tank hingga meriam dan senjata api yang pernah digunakan dalam pertempuran besar. Pakaian seragam PETA, Heiho, dan para pejuang rakyat dipajang untuk mengingatkan betapa beragamnya elemen bangsa yang bersatu dalam perlawanan.

Yang paling menggugah hati mungkin adalah Gerbong Maut satu unit kereta yang dahulu digunakan untuk mengangkut tawanan perang. Di dalamnya, lebih dari seratus pejuang dipaksa berdesakan tanpa ventilasi, dan hanya sebagian kecil yang selamat. Gerbong ini menjadi saksi bisu kekejaman penjajahan, sekaligus simbol keteguhan semangat juang.

Museum ini juga menyimpan mobil De Soto, kendaraan dinas Kolonel Sungkono, serta meja dan kursi perundinganyang pernah digunakan saat gencatan senjata antara TKR dan Sekutu di Surabaya bukti bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga diplomasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU