Selasa, 08 JULI 2025 • 16:15 WIB

Bakso Solo Kidul Pasar: Warisan Rasa Sejak 1965 yang Tak Pernah Padam di Kota Malang

Author

Bakso Kidul Pasar (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang – Di tengah riuhnya geliat kuliner Kota Malang, ada satu nama yang tak pernah tenggelam oleh waktu: Bakso Solo Kidul Pasar. Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1965 oleh Suparno, perantau asal Solo, kedai bakso ini telah menjadi bagian dari sejarah rasa yang melekat di hati warga Malang.

Awalnya hanya berupa gerobak sederhana di sudut selatan Pasar Besar, Suparno menawarkan semangkuk bakso dengan cita rasa khas Solo yang hangat dan tulus. Lokasinya yang berada di “kidul pasar” (selatan pasar) kemudian menginspirasi nama usahanya hingga dikenal luas seperti sekarang. Dengan ketekunan dan kerja keras, warung kecil itu berkembang, dan pada tahun 1987 akhirnya menempati kios permanen di kawasan Sartono SH.

Tak berhenti di situ, pada tahun 1993, Suparno membuka cabang kedua di Jalan Halmahera, dan menyusul kemudian cabang ketiga di Jalan Ahmad Yani pada 1997 yang kini menjadi outlet tersibuk berkat lokasinya yang strategis di jalur masuk utama Kota Malang. Dari tenda kaki lima menjadi jaringan usaha, Bakso Solo Kidul Pasar membuktikan bahwa warisan kuliner bisa tumbuh menjadi legenda kota.

Bakso Kidul Pasar (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Kini, tongkat estafet usaha dipegang oleh Sindu, cucu dari Suparno, yang juga merupakan mahasiswa aktif di Universitas Brawijaya. Di tangannya, usaha keluarga ini tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang mengikuti zaman. Dengan produksi harian mencapai 100 kilogram daging sapi dan rata-rata 2.000 porsi bakso yang ludes terjual, terutama saat musim liburan atau Lebaran, Sindu menunjukkan bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan inovasi.

Tak hanya menghadirkan rasa yang konsisten selama puluhan tahun, Bakso Solo Kidul Pasar juga berhasil menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa kini. Mereka kini hadir di platform layanan pesan antar online, menyediakan metode pembayaran digital seperti QRIS, serta menawarkan produk bakso beku bagi pelanggan luar kota. Adaptasi ini membuatnya tetap relevan di tengah gempuran tren kuliner modern.

Menjaga kualitas rasa dan harga terjangkau juga menjadi prinsip utama. Satu porsi lengkap bakso hanya dibanderol Rp 18.000, dengan tambahan seperti lontong, tahu, atau gorengan mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 3.000 saja. Selain itu, keramahan pelayanan menjadi ciri khas yang membuat pelanggan merasa seperti pulang ke rumah sendiri.

Lebih dari sekadar tempat makan, Bakso Solo Kidul Pasar adalah tempat bernaungnya kenangan. Di setiap mangkuknya, tersimpan cerita keluarga, peluh perjuangan, dan semangat untuk terus bertahan tanpa kehilangan jati diri. Ia bukan sekadar warung bakso, tapi sebuah jejak kuliner yang menghidupkan nostalgia dan menghangatkan jiwa.

Di era serba digital dan cepat seperti sekarang, kisah Bakso Solo Kidul Pasar mengingatkan kita bahwa sesuatu yang sederhana, ketika dijalani dengan sepenuh hati, bisa bertahan dan terus dicintai. Semangkuk bakso yang dulunya dijajakan di pinggir pasar, kini menjadi legenda yang tak hanya melegenda di lidah, tapi juga di hati warga Malang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU