Malang - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Pratikno, mengungkap lima sektor utama di bawah Kemenko PMK yang terdampak signifikan oleh kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI). Kelima sektor tersebut adalah: keluarga dan kependudukan, kesehatan, pendidikan karakter dan jati diri bangsa, penanggulangan bencana, serta penanganan konflik sosial.
Contoh paling nyata muncul di sektor kesehatan. Drastisnya penggunaan gawai membuat masyarakat semakin ‘mager’, berkurangnya aktivitas fisik, bahkan mengalami depresi akibat overload informasi—ditambah rata-rata waktu layar harian orang Indonesia mencapai 7,5 jam. Padahal teknologi semestinya meningkatkan produktivitas, bukan terlebih mengakibatkan disparitas: mereka yang mahir memanfaatkannya justru unggul, sementara yang tertinggal malah menjadi korban.
Indonesia sendiri berada di posisi ketiga sebagai negara dengan kunjungan aplikasi AI terbanyak secara global. Perbedaan signifikan terjadi karena era disrupsi ini bergerak lebih cepat dibanding revolusi sebelumnya program teknologi kelas dunia, misalnya dari Bill Gates, kini hanya butuh hitungan hari atau minggu untuk menjangkau Indonesia.
Baca juga: Wali Kota Malang Tinjau Asrama Bagi SRMP 16 di Gedung Bekas Poltekom
Di ranah pendidikan, pemanfaatan AI meluas dari fungsi mesin pencari, pemeriksa tata bahasa, hingga alat parafrase dan summarizer otomatis aktifitas yang berpotensi meningkatkan kecurangan akademik. Akibatnya, mahasiswa berkurang kesempatan untuk mengasah berpikir kritis dan membangun pengetahuan secara mandiri . AI bahkan mengurangi interaksi manusiawi serta homogenisasi pengalaman belajar; yang mengkhawatirkan, potensi pemikiran non-konvensional bisa terpinggirkan.
Menanggapi kondisi ini, Pratikno mengajak perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menghadapi disrupsi bukan sebagai hambatan melainkan peluang peradaban. Kampus idealnya menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi masa depan bukan sekadar pekerjaan yang kini semakin cepat tergantikan oleh teknologi.
Untuk mewujudkan itu, Kemenko PMK telah meluncurkan program “Human‑Centered AI”. Tujuannya jelas: AI hadir bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperkuat produktivitas sekaligus meningkatkan efektivitas kebijakan SurabayaPost+5antaranews.com+5Malang Pariwara+5. Implementasinya tak lepas dari penguatan literasi digital, riset, dan inovasi agar tercipta sumber daya manusia yang bijaksana dan cerdas teknologi.
Menko PMK juga menekankan pentingnya pendidikan literasi digital dan literasi AI sejak usia dini. Kemampuan kritis terhadap informasi dan kesadaran etis menjadi fondasi agar generasi masa depan tidak terjebak pada arus informasi tanpa verifikasi. Inklusi dan pendalaman materi digital melalui pendekatan “for all, for many, and for few” juga menjadi strategi penting agar tidak ada kelompok yang tertinggal.
Dukungan muncul pula dari Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik. Ia memastikan bahwa kampus terus bertransformasi guna menghasilkan lulusan yang siap bersaing di masa depan, sekaligus mampu menjawab tantangan masyarakat melalui teknologi digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antaranews.com