Selasa, 26 AGUSTUS 2025 • 16:10 WIB

SORE Istri Dari Masa Depan : Film yang Menggoda dan Membingungkan

Author

Jonathan dan Sore di Salah satu adengan Film SORE. (imdb.com)

Jakarta - Ada film yang kita tonton untuk bersenang-senang, ada pula film yang menuntut kita ikut berpikir keras. Sore: Istri dari Masa Depan (2025), karya panjang pertama Yandi Laurence, berada di posisi yang agak membingungkan. Ia tampil dengan wajah romance yang manis: Sheila Dara sebagai Sore, Dion Wiyoko sebagai Jonathan. Namun begitu kisah berjalan, penonton dibawa ke sebuah dunia yang penuh misteri time loop, repetisi, bahkan paradoks eksistensial.

Banyak penonton yang awalnya mengira akan menonton drama percintaan sederhana justru keluar bioskop dengan kepala penuh tanda tanya. Apakah ini kisah cinta yang menyembuhkan? Atau justru relasi kuasa yang samar-samar membelenggu?

Di titik inilah Sore menjadi menarik untuk dibedah, bukan sekadar sebagai tontonan populer, tetapi juga sebagai teks budaya yang membuka ruang interpretasi. Esai ini mencoba melihat Sore lewat tiga kacamata: kuasa ala Michel Foucault, feminisme dan kerja emosional perempuan, serta psikoanalisis Freud tentang id, ego, dan superego.

Time Loop dan Narasi yang Menunda Kepastian

Salah satu strategi paling menonjol Yandi Laurence adalah bagaimana ia menunda eksposisi. Konsep time loop baru benar-benar terasa di pertengahan film. Awalnya, penonton hanya melihat Jonathan yang berjumpa Sore, jatuh cinta, lalu mengalami hari-hari penuh kehangatan. Namun sedikit demi sedikit, ada tanda-tanda aneh: Jonathan seperti pernah mengalami hal-hal yang sama sebelumnya, sementara Sore menyimpan rahasia besar.

Strategi “menjebak” ini punya dua konsekuensi. Pertama, ia membuat penonton awam merasa bingung bahkan frustrasi. Banyak yang mengaku keluar dari bioskop dengan perasaan campur aduk, antara kagum dan kesal. Kedua, strategi ini sebenarnya mengajak kita masuk ke pengalaman Jonathan ketidakpastian, ketidaktahuan, dan kebingungan adalah bagian dari pengalaman itu sendiri.

Literatur tentang time loop dalam film menyebutkan bahwa repetisi selalu punya dua sisi: ia bisa menjadi bentuk trauma yang terus berulang, atau kesempatan kedua untuk menyembuhkan (Willemsen, 2025). Dalam Sore, keduanya hadir bersamaan. Bagi Jonathan, repetisi adalah neraka yang melelahkan. Bagi Sore, ia justru kesempatan untuk memastikan Jonathan belajar, bertumbuh, dan pada akhirnya bertahan hidup.

Kuasa Foucault: Cinta sebagai Disiplin

Michel Foucault dalam Discipline and Punish (1975) menulis bahwa kuasa tidak hanya bekerja melalui represi, tetapi juga melalui disiplin yang halus. Kuasa hadir lewat “normalisasi” tubuh dan perilaku. Dalam Sore, relasi antara Jonathan dan Sore bisa dibaca dalam kerangka ini.

Sore bukan hanya istri yang penuh kasih. Ia adalah figur yang “tahu lebih dulu.” Ia tahu Jonathan akan sakit. Ia tahu Jonathan harus berhenti merokok. Ia tahu jalan cerita sebelum Jonathan melaluinya. Dengan kata lain, ia berposisi sebagai arsip hidup dari masa depan. Pengetahuan inilah yang membuatnya punya kuasa.

Pertanyaannya: apakah cinta yang Sore berikan sungguh-sungguh murni, atau justru sebuah bentukgovernmentality pengaturan halus agar Jonathan patuh pada pola hidup tertentu?

Di satu sisi, kita bisa melihat tindakan Sore sebagai care: ia ingin Jonathan sehat, ia ingin mereka tetap bersama. Namun di sisi lain, kuasa itu terasa mengekang: Jonathan tak punya pilihan lain selain mengikuti takdir yang Sore bawa. Dalam istilah Foucault, ini adalah bentuk kuasa produktif: ia tidak menghancurkan, tapi membentuk subjek baru.

 

Feminisme dan Kerja Emosional: Sore yang Menanggung Beban

Sheila Dara, pemeran Sore, pernah mengatakan dalam wawancara bahwa ia sendiri ragu dengan motivasi karakter ini: apakah benar-benar cinta, atau sekadar obsesi? Pernyataan ini membuka pintu pembacaan feminis.

Dalam banyak hubungan, perempuan sering kali dibebani dengan emotional labour, kerja menjaga perasaan, merawat, memaafkan, mengulang, bahkan menunda kebutuhan diri sendiri demi pasangan (Hochschild, 1983). Sore adalah personifikasi dari kerja emosional ini dalam bentuk paling ekstrem: ia rela “mengulang” kehidupan bersama Jonathan, berkali-kali, hanya untuk memastikan suaminya sampai pada versi terbaik dirinya.

Tentu, kita bisa membacanya sebagai bentuk agensi: Sore bukan perempuan pasif yang hanya menerima nasib. Ia justru menguasai narasi, bahkan melawan “aturan waktu” demi mempertahankan cinta. Namun kita juga tak boleh menutup mata bahwa dalam proses itu, Sore menanggung beban yang luar biasa.

Apakah cinta memang seharusnya ditanggung dengan pengorbanan sepihak? Atau justru film ini sedang memotret realitas pahit bahwa banyak perempuan yang dalam kehidupan nyata, memikul beban serupa dalam rumah tangga? 

Psikoanalisis Freud: Id, Ego, dan Superego dalam Time Loop

Di sinilah lapisan Sore menjadi semakin menarik. Jika kita meminjam konsep Freud, terutama dinamika id–ego–superego, maka repetisi dalam film ini bisa dipahami sebagai drama batin yang terus-menerus dimainkan ulang.

Jonathan sebagai Id
Jonathan merepresentasikan dorongan instingtual yang tak terkendali: keinginan menikmati hidup, merokok, keras kepala, menolak disiplin. Id bekerja dengan prinsip kesenangan (pleasure principle) dan itu tampak jelas pada Jonathan yang lebih memilih kenikmatan jangka pendek ketimbang kesehatan jangka panjang.

Sore sebagai Superego
Sore adalah suara moralitas, pengingat, pengatur. Ia hadir membawa “aturan” yang tidak selalu menyenangkan. Ia melarang, menasehati, bahkan memaksa Jonathan mengubah gaya hidup. Superego dalam teori Freud bekerja sebagai internalisasi nilai social dalam kasus ini, Sore seperti meminjam suara masa depan untuk menjadi pengendali Jonathan.

Ego sebagai Mediasi
Lalu, di mana ego? Ego adalah Jonathan sendiri dalam usahanya menegosiasikan dorongan id dengan tuntutan superego. Ego bekerja dengan prinsip realitas (reality principle): mencoba membuat kompromi antara keinginan liar dan tuntutan aturan. Setiap kali Jonathan jatuh sakit, gagal, atau frustrasi dalam loop, ego nya diuji. Ia harus memutuskan: tetap keras kepala dengan id, atau menyerah pada tuntutan superego.

Repetisi time loop dalam film sebenarnya adalah simbol dari “kompulsi mengulang” (Freud, 1920). Jonathan dipaksa mengulang sampai akhirnya ego nya menemukan keseimbangan. Dengan kata lain, loop adalah terapi brutal: Jonathan hanya bisa bertahan jika ia berhasil berdamai dengan id-nya sendiri, dengan bantuan superego yang diwakili Sore.

Yang menarik, superego di sini tidak hadir sebagai sosok yang keras atau menghukum, melainkan penuh cinta. Inilah yang membuat film ini ambivalen. Apakah superego yang penuh kasih ini menyelamatkan Jonathan? Atau justru membelenggunya dalam pola yang ia tak pernah pilih?

Risiko Artistik dan Kompromi Industri

Dalam industri film Indonesia yang sering kali lebih mengutamakan formula aman (romcom ringan, horor komersial), Sore hadir sebagai anomali. Ia mungkin tidak sempurna, bahkan bagi sebagian penonton terasa membingungkan. Namun keberanian Yandi mempertahankan visinya, meski sulit mencari investor, menunjukkan pentingnya risiko artistik dalam membuka ruang baru.

Film ini, dengan segala kerumitannya, mengingatkan kita bahwa industri film tidak bisa hanya bergantung pada selera pasar. Harus ada ruang bagi karya yang berani bereksperimen, meskipun konsekuensinya adalah perdebatan panjang di ruang publik.

Cinta, Kuasa, dan Pilihan di Tengah Repetisi

Pada akhirnya, Sore: Istri dari Masa Depan adalah film tentang cinta yang tidak sederhana. Ia bukan sekadar kisah manis antara Jonathan dan Sore, melainkan sebuah laboratorium kecil tentang bagaimana cinta bekerja di persimpangan kuasa, pengorbanan perempuan, dan drama batin manusia. Dengan kacamata Foucault, kita melihat cinta sebagai disiplin. Dengan kacamata feminisme, kita melihat beban emosional perempuan. Dengan kacamata Freud, kita melihat pertarungan id–ego–superego yang dipaksa berulang sampai menemukan titik keseimbangan. Dan mungkin itulah pesan terbesar film ini: bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan kebahagiaan sekali jadi, melainkan keberanian untuk terus memilih meski harus jatuh bangun, meski harus mengulang berkali-kali.

Review dan kritik film:

Novin Farid Styo Wibowo, M.Si

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, UMM

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Online

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU