Malang - Sejak lama dikenal sebagai kota pelajar. Suasana akademis dan kehidupan terpelajar seharusnya mewarnai denyut nadi kotanya. Namun, di balik reputasi itu, Malang masih akrab dengan persoalan urban yang tak kunjung selesai. Salah satunya banjir yang hadir hampir setiap musim hujan. Genangan air kerap meluber ke jalan, pertokoan, hingga pemukiman warga.
Bagi sebagian orang, hujan di Malang menghadirkan nostalgia. Udara dingin, suasana syahdu, dan kenangan masa lalu. Sayangnya, nostalgia itu sering buyar ketika genangan menutup jalan dan membuat kendaraan mogok. Kemacetan semakin parah, klakson bersahut-sahutan, dan warga harus berjuang melawan waktu untuk sampai ke sekolah atau tempat kerja.
Di balik banjir, ada pemandangan lain yang selalu ikut menyertainya: sampah. Hubungannya begitu jelas. Dimana ada banjir, di situ ada sampah. Pertanyaannya, dari mana semua sampah itu berasal?
Banyak contoh nyata. Masih ada orang yang dengan santai membuang sampah di jalan atau sungai. Ada pula kebiasaan rumah tangga: sampah dapur memang dikumpulkan, tetapi ketika tempat sampah penuh, suaminya justru membuang ke sungai. Selesai perkara. Praktik kecil ini, jika dilakukan banyak orang, menjadikan masalah semakin besar. Padahal, di kota pelajar, seharusnya kesadaran lingkungan tumbuh lebih kuat.
Solusi sebenarnya tidak selalu harus menunggu pemerintah. Ada hal sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari. Menegur anak tetangga yang membuang sampah sembarangan. Mengantongi sampah dulu jika tidak menemukan tempat sampah. Mengelompokkan sampah sesuai jenisnya. Atau bahkan mengembalikan sampah ke pemiliknya jika terlihat membuang di jalan. Hal-hal dasar yang sebenarnya sudah diajarkan sejak bangku SD.
Tentu, banjir tidak hanya disebabkan sampah. Ada faktor tata kota, drainase, hingga kebijakan pemerintah. Namun, peran masyarakat tetap krusial. Menjadi warga peduli lingkungan tidak membutuhkan gelar tinggi. Siapa pun bisa melakukannya.
Kota pelajar seperti Malang seharusnya tidak hanya dikenal karena universitasnya. Ia juga harus jadi contoh dalam kesadaran menjaga lingkungan. Kota yang bebas dari sampah dan genangan adalah hasil gotong royong warganya, baik tua maupun muda. Karena menjaga kebersihan kota adalah tugas bersama, bukan sekadar urusan pemerintah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online